Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Senin, 27 Februari 2012

Mencari Teman Hidup

Mencari merupakan bagian dari proses kehidupan. Proses di mana setiap manusia sedang menjalani arah hidup. Apakah arah ke samping, ke depan atau berputar-putar sampai pusing sendiri. Arah dari setiap keputusan, setajam konsekuensi yang dijalaninya. Itulah diriku yang sedang mengalami revolusi cinta, mencari teman hidup. Mencari bukan hanya kaum Adam yang sedang mengamat-amati si Hawa di balik pohon. Sebaliknya, kaum hawa-pun bisa mencari adamnya dari beribu Adam di bumi ini. mencari dan menemukan tambatan hati, sehati dan sekali sehidup semati, tanpa kompromi untuk menduakan sang teman hidup itu. Di jantungku, dijantungmu. Datang berlari-lari menemukan rerumputan yang telah mengering dan melaju di hantam sang angin ganas yang merobek ‘tubuh’ dedaunan nan kering itu. Sangat ironis, jika sang kekasihku tidak tahan uji akan detakan jantung yang hebat merobek sukma sampai berkeping-keping.

            Teman hidup berbeda dengan teman ranjang. Teman ranjang sering kali disebut cinta satu malam, bercinta menikmati bibir nan ‘hangat’ dengan rakus bak “kau guritanya, aku rela jadi tintanya”, cinta rumput tetangga yang berbuntut cinta menusuk dari urat sampai ke surat yang tidak sah, berakhir membinasakan hidup dengan tertularnya berbagai penyakit kelamin. Itulah resiko orang yang hanya berorientasi pada teman ranjang dengan kecupan bercinta. Bagaimana mencintai teman hidup dengan cara tulus-iklas?  Itulah tahap proses dimana aku masih mencari dan menemukan sang adam (tulang rusukku yang hilang). Mencintai seseorang sampai maut memisahkan kita berdua bukan dipisahkan oleh pengadilan negeri.

            Pencarian yang tak kunjung lelah. Silih berganti nama tak terlupakan dan pergi meninggalkan retakkan di hati. Meskipun aku pada saat ini berumur 24 tahun, masih panjang karya dan pengalaman yang menanti tetapi cukuplah di sini. Aku harus berani melangkah menerima orang lain di sampingku.

            Tahukah kau, cintaku putih? Setulus salju dan sederas hujan! Sungguh, aku menyanyangi dan mencintaimu. Kangen melululantakan jiwa yang haus akan kasih sayang. Cintaku saat ini berorintasi di atas materai bukan cinta di atas matras (kasur).

            Suatu ketika suara hatimu berbisik ditelingaku ‘kapan menikah’?, ‘kapan punya anak’?, ‘berapa jumlah anak?’, ‘bagaimana pembagian kerja dalam rumah tangga’?, bagaimana pendidikan anak dan pendidikanku?, ‘dimanakah rumah masa depan keluarga cemara yang sederhana itu?’, dan lebih penting lagi, “sudah siapkah hidup dalam suka-duka, untung-rugi, sakit-sehat, jasmani-rohani, ribut-rukun, muda-tua? Dan jawaban aku, ditunda sampai waktu tiba di depan Tuhan, pendeta, orang tua, saksi dan saudara/i yang turut menyaksikan benih cinta teman hidup itu. Jari satu-persatu saling berkolaborasi menjadi sebuah kata dalam imajinasi yang seakan mau menyaksikan hari bahagia itu adalah hari ini. Bersatunya dua insan bukan hari ini tapi kelak waktu itu tiba.

            Pikirku, menikah itu mudah. Mudah, di mana peresmian hubungan dua insan  dalam pernikahan kudus berlangsung dalam satu hari. Namun menjadi susah adalah melakonkannya. Ya,menjalani hidup berumah tangga  dalam penyesuaian berpikir seia sekata bukan berarti berpikir sama melainkan berpikir untuk kepentingan bersama. Berharap Tuhan memberikan petunjuk bahwa dia inilah pilihanku yang bukan asal pilih. Prinsipku kemarin, pacar boleh banyak, tetapi teman hidup hanya satu! Melalui proseslah saya mulai menentukan engkaulah teman lamaku, pacarku sekarang dan pasangan hidupku ke depan. Inilah membuktikan aku serius kepadanya sampai tulisan ini dipublikasikan.

            Mengapa kamu menyayangi dan mencintaiku? Sebenarnya, aku sulit menjawabnya karena belum ada jawabannya. Sejauh ini, aku merasa nyaman jika didekatnya. Aku senang asa otak. Kalau tohk debat pendapat kecil-kecilan, pastinya berkoar kayak burung beo adalah saya. Sebaliknya, dia hanya diam sebagai pendengar yang baik. Kalau ada jawaban, pasti jawabannya tidak lari dengan ucapan “ya, so bagitu noh itu kejadian kong so butul itu pemikiranmu”. Astaga, aku pusing sendiri dan malah tambah banyak pertanyaan yang sebenarnya aku harus menjawabnya dengan sebuah refleksi di kala malam tiba melalui kesunyian dan angin sepoy-sepoy ditemani rembulan malam dekat jendela kamarku ini.

            Roda cinta mencari teman hidup seakan berputar, cukup lama aku menanti kehadirannya di sisiku. Silih berganti nama pergi dari hidupku. Lanjut pikir kecilku, apakah dia ini adalah cinta sejatiku? Setelah dipikir dan dipikir kembali, cinta sejati muncul kalah ada pencobaan, kesalahpahaman, sakit pikiran, konflik, dan perbedaan karekter di mana egois lebih ditonjolkan. Di situlah sebenarnya muncul cinta sejati. Kemunculanya di kala derita dan prinsip yang tak sepaham atau berlawanan arus. Tapi semuanya bisa reda jika ada toleransi, saling memberi maaf, menyadari kesalahan sendiri, bertanggung jawab, sedikit ‘gombal’ rayuan cinta dan setia dalam komitmen.

            Membongkar cerita cinta lama seakan membuat diriku tidak bisa maju. Cerita yang hanya perlu disyukuri melalui pengalaman orang lain (sejumlah nama Adam). Merelakan semuanya pergi dan memaafkan akan semua kejadian yang tidak bisa tercapai. Aku bukan pilihanmu dan kamu bukan pilihanku. Tegas dulu aaah!

            Andai Hawa berani tampil menentukan pilihan hidupnya. Pilihan bahwa dia tercipta sebagai rekan, mitra dan kekasih jiwa Adam. Maka dengan begitu Adam tidak menyianyiakan posisi Hawa.  Hawa dianggap sebagai penyebab manusia jatuh dalam dosa. Jika pola pikir ini menjadi acuan orang Kristen, besar kemungkinan banyak konsep salah kaprah posisi perempuan dalam Alkitab. Andai kaum perempuan berani tampil menentukan pilihan kekasih jiwanya, maka perempuan tersebut memiliki jiwa bebas, kritis tanpa ditindas dan berpikir matang. Seringkali kematangan perempuan dipengaruhi pertimbangan keputusan orang tua. Pertimbangan demi kebahagiaan dan masa depan si anak perempuannya. Itu tidak salah! Bagiku, pertimbangan orangtua mempengaruhi faktor keputusan siapakah pendamping teman hidupku. Perempuan harus merdeka dari 3 ur (kasur, sumur dan dapur). Akhirnya, pilihanku, keputusanku, dan masa depanku!


Awal ungkapan hati buat sang Adam,
Manado, 4 Januari 2012
Nency A Heydemans Maramis

2 komentar:

Unknown mengatakan...

sangat menyentuh Tulisan ini nen..berguna untuk merubah pandangan yg keliru para pemuda jaman skrang.

Nency Heydemans Moningka mengatakan...

Ini adalah refleksi panjang perjuangan kala mencari teman hidup.., Sangat bahagia jika pengalaman hidup menjadi berkat bagi orang lain. Salam