Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Selasa, 02 April 2013

Yudas Iskariot: Saya, Jangan Dipersalahkan





            Saya Yudas, salah satu murid Yesus, anak Simon orang Kariot. Ibu saya memberikan nama Yudas, yang berasal dari bahasa Ibrani “yuda”, yang artinya terpujilah Tuhan. Dengan harapan, suatu saat saya bisa dan selalu memuji TUHAN dalam segala waktu. Beginilah waktu, seiring proses perjalanan hidup, maka saya bertemu dengan nama-Nya, Yesus Kristus. Saya mengambil keputusan untuk mengikuti jejak-Nya. Maka tibalah Ia memilih. Dari kesebelas murid Yesus, saya dipanggil, dipilih menjadi murid-Nya yang keduabelas. Meskipun saya menyadari bahwa murid-murid Yesus juga tak terbatas dari jumlahnya, apakah para perempuan dan atau laki-laki. Memang benar  nama saya disebut paling terakhir, akan tetapi orang terakhir inilah yang sangat mempengaruhi kehidupan Yesus. Mengingat, Injil di atas Segala Injil menyebut saya, sang penghianat (Mat.10:4).

Selama perjalanan penginjilan bersama Rabi, saya mendapat amanat untuk memegang jabatan sebagai bendahara (Yoh. 13:29). Sebenarnya, saya tidak mencalonkan diri menjadi orang kepercayaan-Nya. Bakat menghitung apalagi urusan uang, saya jagonya. Bisa dikata, saya murid terpandai dari yang lainnya. Kepandaian mengatur uang, melihat harga dagang pasar, membangun jejaring sampai dengan urusan belanja tiap hari diberikan tanggungjawab sepenuhnya. Awalnya, saya tidak mengerti panggilan dan amanat besar ini dalam diri saya. Namun saya mencoba menjalani panggilan rasul ini. Sehingga banyak orang menyebut diri saya adalah tangan kanan sang Rabi, Yesus. 

Saya teringat proses kehidupan bersama Yesus dan teman-teman seperjuangan. Proses di mana saya merasa bahagia namun ada banyak kesedihan yang dialami. Bahagia karena memiliki sang Guru yang memperjuangkan keadilan, perdamaian, kesetaraan, transformasi dan lebih jauh lagi, yakni  nilai-nilai kemanusiaan dilakukan, diteladankan-Nya. Saya kagum dengan ide-ide inspirasi yang membebaskan dan memberdayakan bagi siapa saja yang dijumpai-Nya. Di bawah hukum kasih-Nya, semua orang, semua Suku, Agama, Ras dan Gender (SARAG) sama dihadapan-Nya; yang lebih dahulu mengasihi tanpa batas, semacam tak terhingga cinta kasih-Nya. Makin saya tercengang lagi, mujisat ilahi-Nya nyata (baik) bagi manusia maupun alam semesta. Semua seakan tunduk, mengalami transformasi, pulih dari status sosial maupun pulih dari sakit penyakit, bahkan dibangkitkan dari antara orang mati.

 Dipelbagai tempat, saya dengan setia mengikuti Yesus. Banyak orang menyebut Yesus: Tabib, Guru, Gembala, Mesias, Anak Manusia, dll. Gelar-gelar ini diberikan ketika Ia berpikir, mengucap dan melakukan sesuatu yang membuat pengikut-pengikut-Nya bertanya-tanya: siapakah Dia (?).

Saya mengetahui latar belakang Yesus. Ia dilahirkan dari rahim Maria. Kemudian, Ia anak Yusuf, si tukang kayu. Keluarga-Nya sederhana. Akan tetapi, dengan sifat kesederhanaan dibawa kuasa Roh Kudus, Ia menjadi makin terkenal, makin digemari, disayangi oleh siapa saja. Karena Ia adalah Anak Manusia. Hikmat, wibawa, kuasa Roh Kudus selalu bersama-Nya. Berita pembebasan dan kabar baik di sampaikan-Nya entah itu di pesisir pantai, di Bukit maupun di Bait Allah. Tentu perjuangan dan berita kabar baik ini menjadikan diri-Nya sang pemberi Inspirator, sang Transformator dan motivator yang selalu menghidupkan siapa saja yang percaya kepada-Nya. Akan tetapi, saya berpendapat bahwa eksistensi saya sebagai tangan kanan sang Rabi, juga memberi nilai tambah. Orang-orang Kariot diseputaran Yudea banyak mengenal dan mengikuti Yesus. Begitu juga, saya membangun jejaring dengan orang-orang non Yahudi maupun para imam Yahudi. Wawasan dan jejaring yang luas ikut andil dalam memberitakan kabar baik dari Sang Guru.

Ada suatu peristiwa yang membuat saya merasa kurang hati. Begini kisah ceritanya. Enam hari sebelum Paskah, Yesus datang  ke Betania di rumah Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati (Yoh.12:1-8). Di rumah itu, ada suatu kejadian yang sangat aneh, tapi nyata. Maria Magdalena meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang harganya sangat mahal. Jelas, ketika saya melihat perbuatan tulus Maria ini, spontan saya langsung menegur perbuatannya yang boros itu. Yesus membela Maria, karena perempuan itu yang menandakan peringatan hari penguburan-Nya. Saya menegur Maria di depan banyak orang, agar supaya ia tidak boros. Usul saya, minyak itu bisa di jual dengan uang yang harganya sangat mahal, dan uang itu bisa di simpan di kas penginjilan. Ya, jelas untuk keperluan setiap harinya. Sekali lagi, Injil di atas segala Injil menuliskan bahwa saya ini seorang pencuri yang sering mengambil uang kas penginjilan. Jujur saya mau katakan di sini bahwa: sifat manusiawi melekat dalam tubuh yang fana ini. Memang benar, jika keperluan setiap hari tidak cukup maka saya sering mengambil uang kas itu. Akan tetapi, saya juga tahu diri untuk mengembalikan uang tersebut. Ini dikarenakan saya Takut TUHAN dan uang kas itu telah di-buku-kan.  Singkat kata, berapa besar jumlah pengambilan uang itu; begitu pula pengembalian ke kas penginjilan.

Kisah perjalananku mencapai puncaknya. Saya mulai dibenci teman seperjuangan. Banyak yang iri dengan posisi yang saya miliki. Saya mulai dikucilkan diantara mereka. Akhirnya, saya mulai menjaga jarak. Hubungan yang renggang ini mengakibatkan saya mulai bergaul dengan para imam Yahudi.

Para agamawan sangat menerima kehadiranku. Saya mulai mendengar dan melihat perbuatan yang sangat tidak baik dan picik itu. Bak udang di balik batu. Eksistensi saya dimanfaatkan. Mereka sangat membenci Yesus yang membokar abis dagangan di Bait Allah; Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari sabat di Bait Allah bahkan menyebut dirinya, Mesias Anak Allah. Kami membuat diskusi untuk menangkap Yesus. Gonjang ganjing terdengar di mana-mana. Ruangan menjadi ribut. Uang menjadi alat penetral suasana untuk menangkap Yesus. itulah tugas baru yang disampaikan para agamawan bagiku. Pikir singkatku, hanya menangkap Yesus dan pasti suatu saat Ia akan dilepaskan dengan pelbagai sangsi yang akan diterimanya.

Saya mulai mencari strategi untuk menangkapnya, sesudah Perjamuan Malam itu. Hari ‘baik’ itu tiba. Di taman Getsemani, Yesus bersama murid-murid-Nya berkumpul.  Saya mengambil bagian bersama imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua untuk menangkap Yesus. Sesuai kebiasaan waktu itu, di kalangan orang Yahudi, seorang rabi dihormati dengan cara memeluk lehernya dan mencium dahinya. Memang saya menghormati-Nya, dan itulah yang dilakukan. Tiba-tiba suasana menjadi tegang, ada penyerangan dilakukan Petrus. Telinga imam besar terputus. Namun dengan kasih Yesus, Ia mengembalikan dan menyembuhkan telinganya. Terlihat Yesus menyerahkan diri secara sadar dan sukarela ke dalam tangan kami.

Melihat kasih Yesus yang besar kepada kami, maka menyesallah saya (Mat.27:3). Penyesalan mendalam ketika melihat Yesus, sang Rabi diadili di Mahkamah Agama dengan pelbagai saksi dusta (Mat.26:57-68). Ia di olok-olokan, diludahi, dipukuli, dirobeki baju-Nya sampai dipakaikan mahkota duri. Bukan hanya itu saja, Yesus di jatuhi hukuman mati di depan wali negeri. Pemerintah mencampuri urusan agama karena desakan para agamawan. Konsensus bersama dilanggar. Bukan hukuman mati yang harus ditimpahkan kepada-Nya. Sekali lagi, bukan hukuman mati. Hasil konsensus hanyalah sangsi ringan yang harus menimpah Yesus. Melihat tidak ada yang beres, tidak ada yang benar di hadapan para agamawan, maka saya sangatlah menyesal. Lanjut, penyesalan sangsi sosial diterima. Banyak yang mencaci maki, mengucilkan bahkan mengutuk diri saya. Semua berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada kedamaian di hati ini; galau pikiran ini dan tidak leluasa untuk beradaptasi. Depresi, terasa berat tertekan. Inikah kutukan bagi diriku?

Menjalani penyesalan setiap hari sangat menyiksa. Uang tiga puluh perak, saya kembalikan kepada mereka. Saya tidak mempergunakan uang itu. Kemudian uang itu dipakai para imam untuk membeli tanah tukang periuk untuk dijadikan tempat penguburan orang asing sehingga tanah itu disebut tanah darah. Uang darah mengantarkan saya pada akhir hidup yang sangat tragis. Ya, saya menggantungkan diri di atas pohon (Mat.27:5). Sebelum mengakhiri hidup ini, saya memohon kiranya Yesus, sang Rabi yang mengasihi semua orang (termasuk saya) dan mengampuni dosa-dosaku ini, memaafkan serta menyelamatkan hidup saya di kehidupan sekarang maupun selanjutnya. Diingatkan bagi para pembaca bahwa saya, jangan dipersalahkan! Dengan demikian, genaplah firman TUHAN yang disampaikan para nabi dan dikemudian hari dinarasikan para penginjil untuk misi Allah di muka bumi ini. Misi Yesus Kristus akan pembebasan, kesetaraan, keadilan, perdamaian, transformasi dan penyelamatan manusia (termasuk juga hewan dan tumbuh-tumbuhan).


Manado, 2 April 2013
Nency A Heydemans Moningka
           
           

PASKAH YANG MENGHIDUPKAN





Waktu pukul lima pagi,
Langit di sebelah Timur, sedikit demi sedikit mulai terang.
Matahari terbit menandakan kesempatan hidup baru,
Kebangkitan Yesus Kristus menjadi tanda hidup baru; itulah PASKAH!

            PASKAH memperdengarkan berita:
            Hidup itu pemberian dan penugasan.
            Yesus Kristus menugaskan kita untuk menghidupi hidup.
            Bukan asal hidup, melainkan hidup dengan semangat dan bermutu.

PASKAH diimani bahwa Yesus Kristus hidup dan bangkit.
Karena Ia hidup, maka Ia mengubah hidupku;
Mewartakan amanat Injil Kerajaan Allah
Di bumi, di tanah tempat kita berpijak.
           
            Hidup di dalam Yesus Kristus sarat ujian,
            Ia menjadi motivator, inspirator dan bahkan lebih dahsyat lagi,
            Jurus’lamat dunia.
            Aku bahagia bisa hidup bersama-Nya.

Luka bisa ku bawa berlari-lari,
Hingga hilang pedih perih ini.
Namun aku akan lebih tidak peduli lagi,
Karena aku mau hidup di dalam Yesus Kristus, 1000 tahun lagi.

Manado, 31 Maret 2013
05:00

Senin, 04 Februari 2013

Kekuasaan Allah: Pemimpin yang Memberi Teladan




I Samuel 16:1-13 dan I Petrus 2:11-17

            Syaloom, malam bae bagi kita sekalian. Tema yang akan kita renungkan di sepanjang bulan Februari ini adalah kekuasaan Allah. Kita tahu bersama, khususnya umat Kristen di Indonesia sedang berada di tengah proses perubahan yang cepat dan luar biasa. Bagaikan banjir di Jakarta dua  minggu lalu yang tiba-tiba datang tanpa di undang dan tak dapat dicegah. Bagaikan tanah longsor yang terjadi di tanah Minahasa seminggu yang lalu, yang tidak dapat dihindari kemacetannya. Kita dibuat terkesimah, panik akan kedahsyatan kuasa Allah dalam alam ini yang menerpah umat manusia.

            Perubahan luar biasa itu, menerjang kita dari beberapa aras, pada aras modial atau sedunia, kita sedang dilanda dengan gelombang besar yang disebut dengan globalisasi. Pada aras nasional, kita sedang menyaksikan perubahan kekuasaaan parta politik yang terjadi di negara kita. Dan juga pada aras gereja, di akhir tahun ini, GMIM akan diperhadapkan dengan pemilihan pelayanan khusus (pelsus) dan kompelka BIPRA. Sehinga apa yang terjadi di tengah-tengah perubahan yang cepat ini (?). Ada beberapa orang yang mulai bangun dari imajinasinya dan bertanya, dalam situasi yang telah berubah ini, bagaimana seharusnya kita menghadirkan kekuasaan Allah, menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah keluarga, gereja dan negara yang telah, sedang dan akan terus berubah ini? dapatkan digambarkan seperti apakah itu? Lalu, tokoh Alkitab manakah yang pantas dijadikan teladan, acuan hidup kita?

            Saudara/i yang dikasihi dan mengasihi Yesus Kristus, di antara banyak tokoh yang terdapat di dalam Alkitab, hanya dua tokoh yang akan kita bahas di sini berkaitan pembacaan Alkitab kita pada saat ini.

            Tokoh pertama, Daud. Daud adalah anak kedelapan dari delapan bersaudara alias anak bungsu dari keturunan Isai, ia paling krucu dan bekerja sebagai penggembala kambing domba di daerah Betlehem. Akan tetapi TUHAN Allah mengutus Samuel pergi ke Betlehem untuk mencari pengganti raja Saul; mencari seorang anak TUHAN dari keturunan Isai yang dipilih, diurapi menjadi raja atas Israel (ay. 1-3).

            Hal menarik dari kisah pemilihan TUHAN Allah atas Daud ini adalah bahwa terpilihnya Daud menjadi raja atas Israel bukan karena koneksi atau relasi. Bukan juga karena kepandaiannya menyusun strategi dalam pemilihan raja, tidak kampanye, tidak berkompromi dan tidak mengambil hati rakyatnya. Sebaliknya ia dipilih dan diurapi TUHAN Allah semata-mata adalah karena hati nuraninya yang bersih dan takut akan TUHAN. Dalam ay. 7 C berfirmanlah TUHAN Allah kepada Samuel “…. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Ini berarti, TUHAN Allah memilih pemimpin baru bukan di lihat dari fisik tubuhnya, bukan karena Daud banya doi, bukan banyak jabatan dari keturunan raja. Sekali lagi tidak demikian! Ia melihat hati nurani, pemberian diri pemimpin untuk menjadi saluran berkat bagi keluarga, umat dan negara. Itulah Daud, raja Israel yang diurapi untuk maksud-Nya dalam pemerintahan Kerajaan Allah di bumi. Raja yang memberi berkat, bukan mencari berkat! Kemudian, melalui keturunan Daud inilah akan muncul Raja di atas segala raja, yakni Yesus.

            Tokoh kedua di sini adalah hamba TUHAN. Atau dalam bahasa Ibraninya disebut ebed yahweh. Mengapa tokoh ini dijadikan acuan? Marilah kita melihat kembali yang tertulis dalam I Petrus 2:16 yang berkata : “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Ini bererti sandaran, landasan, dan sumber keabsahan dari eksistensi kita adalah karena TUHAN yang menetapkan, memilih, mengurapi dan mengutus saudara/i dan saya menjadi hamba-Nya.

            Di tahun 2013 ini, jika Yesus Kristus mau pakai torang samua menjadi hamba-Nya, ini berarti bukan karena kehebatan, kecerdikan dan kecerdasan kita saja, melainkan karena Ia mau mengatakan “inilah hamba-Ku, orang pilihan-Ku.” Kita bisa tidak terlihat, kecil, minoritas, lemah dan tak berdaya karena sistem yang tidak membebaskan dan tidak memerdekakan. Namun kalau TUHAN berkenan, kalau Ia pakai torang samua menjadi alat berita Injil keselamatan-Nya bagi dunia ini maka kita dikuasai Roh Kudus.

            Kita, hamba-Nya memang hanyalah bejana tanah liat yang muda rentan, lemah dan pecah. Bahkan kia hanyalah musafir yang sedang menggembara. Akan tetapi, bila TUHAN Yesus berkenan memilih anak di tengah keluarga, suami, istri, orang tua untuk menjadi pemimpin dan saksi-Nya bagi gereja dan negara, maka kekuatan Roh Kudus akan melimpah ruah di hidup saudara/i dan saya. Sehingga haruslah siap!

            Adapun ungkapan bijak dari seorang ayah yang berkata “biar dorang tutup satu lobang di tampa ini, pada hari ini, maar percayalah di dalam Yesus Kristus bahwa akan muncul banya lobang di tampa laeng, di kamudian hari.” Artinya, hari ini, di tanah Minahasa ini di mana usaha, bisnis, pekerjaan, pelayanan dan sikap baik kita tidaklah ada artinya bagi kebanyakan orang, namun kelak, percayalah di dalam Yesus Kristus bahwa kita di kemudian hari, di tempat lain akan memberi arti, makna dan kontribusi yang besar bagi banyak orang, di mana TUHAN telah mengutus, merencanakan masa depan yang terbaik bagi kehidupan kita dan keluarga kita.

            Mungkin ladang TUHAN juga tidak hanya terbatas di tanah Minahasa ini. lebih mulia lagi kalau identitas primodial Minahasa (misalnya) di bawa ke tanah rantau sebagai musafir, sebagai saksi-Nya di setiap pekerjaan yang kita tekuni, yang telah Ia anugerahkan kepada kita melalui sikap mengasihi orang lain, yang bukan hanya terbatas pada orang Kristen saja, melainkan mengasihi mereka yang beragama lain maupun yang tidak beragama. Karena pada mulanya, TUHAN itu mengasihi dan baik kepada semua orang.

            Lalu, untuk apa Yesus Kristus memberi Roh Kudus ke atas hamba-hamba-Nya? agar supaya setiap orang percaya menjadi pemimpin (baik di gereja maupun di dalam negara ini) tidak menjadi orang yang lupa diri. Tidak seperti kacang yang lupa dengan kulitnya. Namun karunia Roh Kudus ini mengantarkan setiap kita di dalam hukum kasih Allah. Artinya, melakukan kasih, keadilan, kebenaran dan kerendahan hati. Belajar kerendahan hati ini berarti hamba Allah, menjadi pemimpin Kristen, maka ia haruslah seperti Daud, yang taat, setia bakan takut akan TUHAN. Dan ibarat juga padi yang makin hari, makin ber-isi dan makin merunduk. Kerendahan hati inilah mengajarkan perlu adanya rekonsiliasi, misi perdamaian di tubuh UKIT GMIM. Semoga ada jalan keluar untuk masa depan bersama.

            Ya, walaupun seperti kita tahu bersama bahwa menjadi pemimpin, hamba Allah itu ada konsekuensinya. Di mana harus menderita. Kalau orang Kristen di tanah Minahasa ini mau menjadi gereja yang misioner yang siap ke surga, menjadi hamba-Nya yang memberi berkat, maka ia tidak boleh takut menderita. Sehingga, makin ia dibabat maka ia haruslah makin merambat. Yang paling penting, bukan menderita sekedar menderita atau so asal torang mandarita. Bukan juga menderita karena terpaksa “apa boleh buat, haruslah menderita, tidak demikian!

            Terdapat benang merah dari PL ke PB, akan tetapi di tengah benang tersebut ada kisah historis karya Yesus Kristus. Ia merangkul seluruh penderitaan. Rela dan ikhlas menderita, menjadikan diri-Nya sebagai korban atas kebijakan pemerintahan Romawi pada waktu itu; menjadi korban, mati di kayu salib demi karya keselamatan dan pembebasan bagi dunia ini, terutama bagi umat manusia.

            Dan oleh sebab itu, di tahun 2013 di minggu pertama bulan Februari ini, muncul pertanyaan untuk kita refleksikan bersama firman TUHAN ini melalui pertanyaan “apakah kita sudah menjadi pemimpin, hamba Allah yang memberikan teladan yang baik bagi keluarga, gereja dan negara kita? Mengapa demikian?

            Semoga, Yesus Kristus menolong saudara/i dan saya di setiap usaha dan karya. IMANUEL. Amin.



Manado, 3 Februari 2013
18:00
Nency A Heydemans Moningka
Khotbah di GMIM Bukit Karmel Batukota

Jumat, 04 Januari 2013

Akhir Sebuah Kejayaan Keluarga



Perayaan Hari Basar dan Tahun Baru disiapkan selama sebelas bulan,
            Seminggu pelaksanaan perayaan dan bertahun-tahun pemulihan ekonomi.

            Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, semua tamu telah berlalu, tinggal pak tua duduk terpaku di kursi kejayaan. Kebisuan malam melandanya, angin seakan malu-malu menghembus diwajahnya yang telah ditinggalkan tamu. Kusam memang jika duduk sendirian tanpa kawan. Kursi berserakan tak menentu, dihiasi sampah yang siap menunggu untuk disapu.

            Keesokan harinya, beberapa sanak keluarga ikut membantu membersihkan piring, mengangkat gelas, mengumpulkan sendok menuju dapur. Kemudian, sisa-sisa makanan menjadi padu di tempat sampah. Rumah yang megah berubah menjadi syahdu penuh hiasan sampah. Tiada lagi tamu yang duduk atau berdiri di situ. Kue-kue natal telah habis di dalam toples, minuman ringan maupun minuman berat menjadi bocor dari botolnya, pohon terang plastik perlahan-lahan mulai dibongkar, lampu hiasan seakan mati dikejar waktu, kembang api puluhan juta rupiah melaju terbang dibasahi hujan yang kering. Semuanya ini menandakan kemeriaan perayaan Hari Basar dan Tahun Baru telah menjadi kenangan di masa kejayaan.

            Seminggu yang lalu, rumah orang nomor satu ini sangat ramai dan dipadati tamu yang berpenampilan mewah. Tak ketinggalan, tuan rumah mengenakan baju model terbaru dengan harga roket. Tetangga, kenalan, teman kantor, sanak-saudara datang berkunjung sebagai bentuk silaturahmi. Pelbagai macam makanan tertera di atas meja beralaskan kain merah-hijau itu. Menu makanan sangat mengiurkan pengunjung. Para artis dadakan lokal mulai bermunculan diperayaan itu.  Tembang lagu terdengar di seluruh penjuru, berkat alunan dari sang pianis.

            Sambil mendengar alunan musik itu, para tamu berbondong-bondong menuju meja makan yang sarat kolestrol, diabetes, darah tinggi dan asam urat. Padat peminat sampai bersesakan di samping meja yang sarat pilihan menu. Kemudian mereka memilih-milih makanan dengan ragu, alasan pola makan yang sehat. Segera setelah itu, mereka melahap makanan dengan seru tanpa rem tangan. Kali ini, terdengar piring, sendok dan gelas beradu. Bercampur canda tawa para tamu dan si Pak Tua tersebut.

            Sebelas bulan yang lalu, Pak Tua sibuk mengumpul dan mengatur perayaan itu. Ia pun bekerja keras, uang tabungan dialih fungsi menjadi bisnis kecil-kecilan. Ia adalah seorang ayah yang diktaktor pada anak-anaknya. Apapun perintah dari sang ayah, maka anak harus tunduk dan menjalankan perintahnya dengan berat hati. Hari ini, ayah bekerja sebagai pegawai negeri dan juga pebisnis. Meskipun ia sering mementingkan diri sendiri, suka mabuk namun ia memegang andil dalam pendidikan anak-anaknya. Anak-anak ingin sekolah, maka ia bekerja keras untuk membiayai pendidikan mereka. Alhasil, semua anaknya berhasil dalam studi.

            Sementara sang istri sibuk mengatur menu, mengatur keuangan dan pakaian yang akan yang dipakai di Hari Besar itu. Mulai dari ayah sampai dengan anak-cucu, mengatur kecantikan rumah dan pesonan dandanan. Anak sulung ikut membantu secara finansial. Sedangkan anak yang bungsu ambil bagian menghubungi pianis, MC agar supaya perayaan berjalan dengan meriah. Tak ketinggalan, keaktifian sang cucu menjadi pusat perhatian keluarga ini.

            Sebenarnya, perayaan ini sudah menjadi kebiasaan keluarga Pak Tua setiap akhir tahun. Kala itu, ia memegang jabatan pemerintahan sehingga status sosialnya ikut meroket. Kekuasaan, jabatan, kedudukan, nama baik, mengiring harta kekayaan yang melimpah ruah. Selama dua puluh tahun, ia membeli tanah di pelbagai tempat, rumah, sapi, babi, mobil, investasi yang lumayan banyaknya. Pikirnya, semua harta benda ini cukup untuk generasi ke empat. Sementara sang istri sibuk karir ini dan itu. Mulai dari kesibukan di rumah sampai di depan publik. Dengan sendirinya nama baik keluarga Pak Tua ini menjadi terpandang, dihormati meskipun kebudayaan setempat tidak mengenal sistem Kerajaan.  

            Pak Tua pun menghitung waktu. Tahun ini adalah masa pensiun. Bisnis bangkrut. Namun ia memastikan perayaan Hari Basar dan Tahun Baru ini sama seperti beberapa tahun yang lalu. Ada pesta, ada kemeriaan kembang abi, ada pembagian donat (baca: doi Natal). Perlahan-lahan ia mulai menghitung ternaknya untuk di jual. Memastikan rumahnya masih berjumlah enam, dan semuanya di gadai. Tak lupa Pak Tua pun ikut menghitung jumlah hektar tanah yang akan dibeli oleh investor asing. Menaksir jumlah rupiah dari penjualan mobil yang tujuannya hanya satu. Yakni memenuhi kebutuhan hidup di perayaan itu. Perayaan sebagian orang Kristen menyebutnya “perayaan setahun sekali; sekali pemborosan.”     Gaya hidup konsumtif yang telah jauh dari kesederhanaan makna Hari Basar dan Tahun Baru.

            Tak terasa, hari demi hari berlalu begitu cepat. Pak Tua dan istrinya semakin kencang berburu. Berpacu keperluan di sela waktu yang singkat. Perayaan tahun ini haruslah meriah demi nama baik dan martabat keluarga. Dengan mengecek seluruh persiapan maka tibalah waktunya. Galau muncul di tengah malam sebelum ia memejamkan mata. Sambil menarik nafas panjang di sela himpitan ekonomi keluarga.

            Parayaan Hari Basar telah tiba. Pagi itu, semua keluarga Kristen bergegas ke gedung gereja. Ada yang menonjol dalam ibadah, Nah apakah itu? Banyak burung gereja muncul sehingga dibuatlah tenda, kursi tambahan yang begitu banyak. Ada yang memakai sepatu baru, penampilan baru, dan baju model terbaru. Namun ada yang lupa, Nah apa lagi itu? Ternyata keluarga Pak Tua lupa membawa persembahan syukur karena telah disibukkan dengan penampilan yang serba mewah dan persiapan makanan di rumah yang tak kalah megahnya.

            Tak lama kemudian, ibadah usai. Semua pulang ke rumah masing-masing. Pak Tua langsung mengecek persiapan perayaan Hari Basar telah disiapkan dengan begitu baik.  Ia menyambut perayaan ini dengan open house. Tak lama kemudian teman, tetangga, sanak saudara mulai datang. Ada yang membawa keluarga mereka, ada pula membawa kerabat masing-masing. Lama-kelamaan rumah ini dikerumuni banyak orang, halaman rumah menjadi alternatif tambahan. Otomatis, sewaan kursi plastik meningkat diluar dugaan. Hidangan makan malam hampir melewati target. Kembang api puluhan juta rupiah menghiasi langit yang mendung itu. Dari kejauhan, langit melotot melihat perbuatan aneh manusia itu.

            Selama satu hari itu, Pak Tua dan keluarganya bak selebritis top tahun itu. Tidak jemu-jemu para tamu memandang orang yang menjadi nomor satu. hmmmm, mendapat perhatian orang sebanyak ribuan. Makan-minum; nyanyian merdu-diskusi; sampai dengan keceriaan tawa turut mengiringi kegembiraan para tamu. Kegembiraan ini pun turun menyelimuti perayaan Tahun Baru. Semua orang memuji pesta perayaan Pak Tua ini yang melebih batas langit. Kerja keras dan pengorbanan harta benda Pak Tua terbayar dengan rasa pujian sampai di langit biru.

            Namun saat ini, Pak Tua sedang mengambil langkah seribu. Di balik rasa kebahagiaan dan haru pujian, Pak Tua mulai menyadari kemiskinannya. Dari masa kejayaan menuju pada masa kemelaratan. Ia mulai teringat akan ternak, tanah, dan mobilnya. Belum lagi, enam rumahnya yang telah di gadai. Ditambah sisa-sisa utang bank yang harus dibayar dan mungkin Pak Tua tak mampu membayarnya. Pak Tua sedang masuk dalam masa peralihan. Dari masa Pencerahan menuju masa kegelapan.

            Andai saja ia tidak mengadakan perayaan Hari Basar dan Tahun Baru semeriah itu. Cukup dilakukan dengan kesederhanaan setelah ibadah di gedung gereja. Mungkin ia bisa mengumpulkan modal untuk bangkit dalam bidang bisnis. Menyimpan uang untuk kesehatan di hari tuanya. Mensyukuri kehidupan yang tidak lagi di atas langit melainkan telah berputar di bawah bumi. Namun sayangnya karena gengsi, Pak Tua telah bernafsu. Perayaan itu dijadikan alasan untuk menjadikan dirinya orang nomor satu di daerah itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

            Di depan kaca rumah itu, Pak Tua duduk termangu. Ia mulai sadar bahwa nantinya ada orang yang akan menyita rumahnya. Akhirnya, ia terpaku bahwa dirinya bukanlah orang nomor satu di daerah itu. Dia hanyalah satu dari keluarga Kristen yang merayakan perayaan itu, dengan cara yang berbeda. Tiba-tiba saja, ia terbangun dari lamunannya. Dan ingin rasanya kembali seperti dulu lagi. Ya mengubah waktu, dan keputusan perayaan-nya yang salah kaprah.

Manado, 4 Januari 2012
23:15
                                                                                   Nency A Heydemans-Moningka