Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Senin, 27 Februari 2012

Air

Apa manfaat air? Mudah saja. Air bersih dan jernih sebagai kebutuhan utama makhluk hidup.
           Tetapi bagi manusia, air memiliki banyak manfaat lain. Coba perhatikan. Pada musim hujan ada orang memakai air untuk mencuci baju dan mandi. Bahkan air digunakan untuk mencuci piring. Di berbagai usaha pertanian seperti padi, kangkung dan lainnya, air sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan pertanian, sayur-mayur. Tak ketinggalan tambang ikan sangat membutuhkan air agar supaya ikan mas, ikan mujair, dan ikan lainnya bisa hidup sejahtera di kolamnya yang telah di basahi air hujan itu.
           Hujan berlebihan dalam jangka panjang akan beralih fungsi. Coba lihat gedung dan rumah megah, pabrik di kota metropolitan bisa beralih fungsi menjadi ‘sungai yang berwarna kecoklat-coklatan’ yang ‘becek’. Di pojok, air dimanfaatkan anak-anak untuk mandi sambil berenang. Di depan, si pemuda sibuk mengangkat barang-barangnya untuk diamankan. Di belakang, si nenek yang lagi sakit  sedang diselamatkan PMI dan sukarelawan untuk di bawa ke tempat aman. Di samping, si ibu sedang sedih karena rumahnya masuk air, kotoran sampah, virus dan tidak menutup kemungkinan kotoran manusia ikut mengalir di air coklat itu. Akhirnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan, pembangunan gedung yang tidak seimbang dengan lingkungan sekitar, pohon di tebang dan berdirilah menara gedung nan indah menjadikan manusia kebingungan sampai frustasi mengatasi yang namanya BANJIR. Mata air berubah menjadi air mata sembilu pilu.
          Hujan telah surut maka air beralih fungsi. Semua orang sibuk membersihkan sisa-sisa banjir. Lalu, kemana air yang banyak itu? Di buang ke sungai yang telah penuh tempat sampah organik maupun non organik telah membaur menjadi satu. Sekitar dua kilometer dari kota itu, ada seorang anak lagi asik memacing ikan di dalam sungai. Ikan memakan bahan sampah yang di buang manusia dan manusia memakan ikan tersebut. Apakah ikan-ikan di sungai layak di konsumsi?
Di lain fungsi, bagi pengusaha garam, curah hujan yang tinggi bisa membawa malapetaka bagi mereka. Bagaimana malapetaka bisa terjadi? Ya, air hujan menutupi lahan (petak) yang berakhir pada gagal panen.
          Pada musim berikutnya, kemarau melanda daerah Indonesia bagian Timur. Tak mengherankan tanah pecah, daun berguguran, bunga layu dan sayur-mayur kering. Gagal panen sulit dihindari. Manusia mengelu karena kesulitan air bersih dan harus berjalan belasan kilometer untuk mendapat beberapa gelon air. Manusia membutuhkan 50-75 % dalam tubuhnya. Air bersih menjadi rebutan dan konflik antar warga tak bisa di hindari. Nah, lalu kelangkaan air bersih menjadi persoalan bersama. Es di kutub mencair. Bagaimana peran manusia mengatasi perubahan iklim yang ekstrim ini?
          Mau hidup sehat dan bersih, belilah air yang berasal dari sumber mata air terpercaya dan teruji kelayakan di konsumsi manusia. Itu baru namanya bisnis air munim yang banyak ditawarkan iklan dan media masa. Jangan heran kalau air bisa diperoleh dari dua cara. Pertama, secara gratis yang di berikan alam melalui curah hujan/mata air. Kedua, mata air diubah menjadi mata pencarian, kemudian air harus di bayar sebelum di minum. Ternyata manusia memang sangat kreatif dikala air datang dan pergi.
           Tengah malam yang hujan ini, Saya merenung sambil menulis bahwa suatu saat air tidak ada lagi yang gratis seperti yang diberikan alam kepada setiap makluk hidup. Lanjut, manusia memang sukanya mengeluh. Curah hujan yang tinggi, manusia bukan hanya mengeluh tetapi juga menangis karena kehilangan sanak-saudara. Tidak ada hujan, manusia menjerit tidak ada air hidup membasahi bumi dan memenuhi kebutuhan manusia. Lalu, mau manusia apa sih?

            Apa fungsi air menurut Alkitab? Ada belbagai fungsi air, baiklah saya akan memaparkan terlebih dahulu menurut Perjanjian Lama.
            Air menjadi teguran bagi manusia. Kitab Kejadian mengatakan “… sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi  segala yang ada, yang Kujadikan itu” (Kejadian 7:4). Pengamsal berkata “.. perkataan mulut orang seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat seperti batang air yang mengalir” (Amsal 18:4).  Air bisa menjadi malapetaka atau bencana yang di takuti manusia takkalah manusia tidak setia kepada Tuhan. Begitu juga perkataan kotor akan menuju jurang kebinasahan. Sebaliknya, hikmat Tuhan menjadi berkat yang mengalir tak henti bagi siapa saja yang dipakai Tuhan.
            Air juga dapat berarti ungkapan kebesaran dan kerinduan manusia kepada Allah. Ayub menyaksikan kebesaran Allah dengan berkata “ Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita, jumlah tahun-Nya tidak dapat diselidiki. Ia menarik ke atas titik-titik air, dan memekatkan kabut menjadi hujan” (Ayub 36:26-27)”. Mazmur berkata “.,. seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah (Mazmur 42:2).
            Kemudian, air dapat juga berarti berkat bagi manusia. Air menjadi sumber utama bertumbuhnya seorang manusia. Pertumbuhannya seperti pohon. Mari simak perkataan Yeremia “diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanami di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yeremia 17:7-8).
             Bagaimana pemaknaan air menurut Perjanjian Baru? Air berfungsi sebagai alat membaptis manusia (Markus 1:8; Matius 3:11; Lukas 3:16, Yohanes 1:26); Mujisat pertama Yesus yakni mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2). Pemaknaan sumber air kehidupan jelas dituliskan oleh Yohanes, di mana hanya percaya kepada Yesus sebagai sumber air hidup (Yohanes 7). Intinya, berharap dan percaya sesuai Kitab Suci maka akan mengalir air kehidupan yang diberikan Yesus melalui Roh-Nya yang Kudus.
             Oleh sebab itu, tidak dapat dikatakan bahwa Yesus adalah air kotor atau air keruh. Juga tidak dikatakan bahwa Yesus adalah air panas atau air dingin. Juga tidak dikatakan bahwa Yesus adalah air sungai atau air laut. Tidak pula dikatakan bahwa Yesus sebagai air sumur. Yang pasti Yesus bukan air minum atau bukan air untuk dipakai sebagai kebutuhan rumah tangga, seperti mencuci dan memasak serta, bukan pula Yesus sebagai air yang berisi racun terkena peptisida, merkuri atau bahan berbahaya bagi makluk hidup. Intinya Yesus sebagai air dalam pengertian yang sebenarnya, yakni berfungsi sebagai air kehidupan yang diperoleh secara gratis oleh siapa saja tanpa iuran bulanan dan atau pajak.


Manado, 8 November 2011
Pukul 02:40 WITA
Nency A. Heydemans-Maramis

Tidak ada komentar: