Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Senin, 18 Juni 2012

Perempuan Menatap Masa Depan



              Mengapa perempuan? Dan mengapa menatap masa depan? Bukankah perempuan bagian juga dari masa lampau? Inilah diskursif topik menarik yang saya ikut di program TVRI (17 Juni 2012) sekitar jam delapan malam.
           Menariknya karena melibatkan relasi dialog dengan pemerintah, aktivis, dosen, dan penonton itu sendiri. Pembawa acara dan salah satu nara sumber berjenis kelamin laki-laki. Kemudian mereka diipit oleh para perempuan jempolan. Jempol bagi mereka (para perempuan) yang bisa mereduksi, dekonstruksi, dan merekonstruksi apa yang sudah dianggap ‘lazim’, ‘budaya’ salah kaprah.
           Maaf saya sudah lupa nama kelima para nara sumbernya. Maklum, mereka tidak mengenal saya maka dengan demikian saya juga tidak mengenal mereka. Kok gitu aja repot hehehe.
  Namun saya ingat benar bahwa konsep dan kontribusi pemikiran mereka mengalir membuka cakrawala luas bagi kaum perempuan di mana saja untuk bebas dan merdeka. Diri mereka sudah bebas dan merdeka lalu bagimana dengan diri saya dan anda?
           Baik maskulinitas maupun feminitas, ataupun maskulinitas dan feminitas menunjukan kita sama sebagai makhluk TUHAN yang hidup bersosial membagi kasih yang lebih memberdayakan mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (band. Pancasila sila kelima).
            Begitulah perempuan menatap hidup sebagai anugerah TUHAN, anugerah yang terlukis dalam pancaran masa depan penuh pelangi kasih bagi seluruh ciptaan-Nya. Inilah perjuangan, optimis, niat dan tekad kaum perempuan untuk selalu berkarya, berkarier dan berkontribusi menghidupkan hidup keluarganya dan masyarakat sekitarnya.
            Bagaimana jika ada perempuan yang masih menatap masa lampau?
            Ada pepatah mengatakan “masa lampau adalah pengalaman, masa sekarang adalah perjuangan dan masa depan adalah proses mencapai harapan (cita-cita) yang lebih emansipatif dan kompetitif.”
            Begitu juga jika seorang perempuan (atau laki-laki) mengendarai mobil (atau motor) maka ia harus melihat kaca spion kanan dan kiri. Jika ia hanya menatap  ke depan tanpa melihat arah ke belakang maka mobil yang dikendarainya bisa bertabrakan dengan kendaraan yang lainnya. Bisa-bisa anda repot dan pusing sendiri.
            Nah, bagaimana dengan anda, apakah hanya melihat masa depan tanpa melihat ke belakang? Jikalau begitu, Bisakah keberhasilan yang dicapai hari ini tidak di lalui dengan beratus-ratus kegagalan yang diuji?
Dengan demikian, keberhasilan di capai melalui proses ketabahan, ketekunan dan kesetiaan untuk memperbaiki kualitas hidup lebih baik dari kemarin menuju puncak tangga hidup yang masih panjang nan jauh. Bukan, kemarin lebih baik dari sekarang, bukan juga hidup menuruni tangga tanpa melihat proses jalan hidup yang makin surut. Bukan, bukan demikian!
Mencetak masa depan berdasarkan pengalaman sebagai perempuan tidak-lah gampang. Kok bisa? Iya-lah, banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang belum diselesaikan oleh para pejuang perempuan dan penerusnya (termasuk saya dan anda). PR di sini disebabkan oleh ambisi demi gengsi dan demi aksi yang tidak memberi kesempatan perempuan bersuara.
Konstruksi sosial membuat pengalaman dan perjuangan perempuan makin meredup. Streotip laki-laki lebih rasional dan perempuan emosional, bahkan pembagian kerja menurut jenis kelamin, misalnya laki-laki di ranah publik dan perempuan di ranah domestik menjadikan manusia (perempuan dan termasuk juga LGBT) tidak hidup selaknya ia hidup dengan hak dan kebebasannya.
Pernahkah agama monoteis (misalnya agama Kristen) memposisikan perempuan yang paling depan dan memihak kepada perempuan? Bisakah membaca Alkitab dengan memihak kepada kaum perempuan yang dianggap sebagai objek, korban dan yang mengalami diskriminasi dalam kebudayaan patriakhi? Benarkah Allah preferensi seksualku? Akhirnya, banyak ambigu, salah kaprah dan penafsiran harafiah teks melihat peran perempuan sebagai ‘momok nan menjijikan’.
Dulu saya jatuh namun sekarang saya bangkit dan meneruskan perjuangan yang masih ‘tertunda’. Perjuangan sendiri dan Mungkin juga perjuangan para leluhur saya.
Ingat ini penting sahabat, “menjadi orang penting itu baik tetapi lebih penting menjadi orang baik.”
Kalau mau berhasil, marilah menatap ke depan sambil melihat ke belakang yang adalah cambuk untuk mentransformasikan diri sebagai sebuah inspiratif yang menghidupkan dan membanggakan keluarga sendiri untuk bertahan hari ini dan mengikuti jejak ke-depan-an.
Mengapa kita harus kembali dalam lingkup keluarga sendiri? Keluarga itulah cermin teladan, panutan dan atas nama keadilan serta kebebasan diberikan orang tua (papa dan mama) kepada anak-anaknya (termasuk saya). Keluarga adalah basis yang saling memberi kasih sayang, orang tua selalu memuji keberhasilan anaknya dan tak ketinggalan kritikan seperti ‘hujan batu’ kala hidup sudah ‘menyimpang’ dari amanat-Nya. Dan oleh karena itu, di dalam keluarga setiap individu mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing.
Jadi, apakah yang akan kita ciptakan dalam keluarga? Rumahku, oasis?; atau rumahku, neraka?
Apa lagi yang masih anda tatap wahai sahabatku?
Marilah kita menebarkan kasih yang lebih membebaskan, berkeadilan, memberi kesempatan demi tenunan bahagia akan keajaiban mimpi. Ingat semboyan Marthin Luther King “I Have a dream”. Ya, ber-mimpi-lah sambil ora et labora.

Salam Kasih
Manado, 18 Juni 2012
13:40
Nency A Heydemans Maramis

Tidak ada komentar: