Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Selasa, 10 April 2012

Lebih Baik Banyak Memberi daripada Menerima

            Paskah bagi orang Kristen adalah sukacita yang sungguh luar biasa, di mana Yesus Orang Nazareth telah mati dan bangkit dari kubur mengalahkan dunia orang mati, mengalahkan maut. Kristus TUHAN telah menang, memerdekakan bahkan membebaskan umat manusia menuju kepada hidup yang kekal bersama-Nya. Namun nuansa ini tidak seindah warna cakrawala nan biru di udara. Mengapa? Inilah pergumulan batin antara saya, papa, mama dan Hendra mengenai dunia pelayanan yang sedang saya guluti sekaligus gumuli.

            Hari ini berdirilah seorang yang banyak memberikan inspirasi di dapur, yakni: mama untuk memberikan penguatan iman, katanya: “Nency, Lebih baik banyak memberi daripada menerima.” Jawab saya kepada sang mama tersayang “Apa yang harus dilakukan dalam pelayanan penuh tantangan ini? Apakah saya akan mampu melaluinya?.” Jawab mama yang sedang memasak kue namu-namu: “sabar dalam kesesakan maka TUHAN akan memberikan jawabannya. Jangan cemas karena TUHAN selalu berjalan bersamamu, meskipun dunia tidak memperhitungkan pelayananmu tetapi TUHAN tidak menutup mata dengan kebesaran pelayananmu yang tulus ikhlas.” Kata saya kepada mama sambil terharu meneteskan air mata: “ia, semoga demikian.”

            Tetapi pernyataan mama tidak membuat hati saya merasa puas. Lalu, saya berkata kepada mama: “Dan siapakah saya yang memberi begitu saja tanpa tanda jasa?.” Ketika pertanyaan itu dilontarkan tiba-tiba datanglah papa Noldy Mohede ke dapur sambil membuat kopi dan sambil berkata: “Adalah seorang yang membutuhkan uang tetapi ia hanya bermodalkan kekuatan fisik seperti otot dan strategi bertanding dalam pertandingan Ring Tinju. Ia pun menandatangani kontrak untuk bertanding tinju antar daerah. Ia adalah seorang dari kepulauan Sangier datang ke daerah Manado. Kemudian, Ia mengikuti pertandingan. Lawannya pada saat itu adalah seorang pemuda dari Minahasa. Ketika dalam pertandingan, si pemuda Minahasa hanya tahu menerima pukulan fulungku tinju. Ia hanya asyik menerima tanpa memberi pukulan. Sebaiknya si pemuda Sangier datang dengan motivasi dan semangat berapi-api bahwa dia harus memenangkan pertandingan ini. Maka tanpa pandang bulu ia pun memberi banyak serangan pada lawannya. Memberi banyak pukulan tanpa menerima serangan balik. Sebelum ronde keempat berakhir sang pemuda Minahasa terseret jatuh sampai keluar dari ring pertandingan. Karena kebanyakan menerima pukulan maka iapun tidak sadarkan diri, dari wajah sampai badan mandi berlumuran darah. Sungguh ironis strategi perlawanannya yang salah kaprah, yakni banyak menerima pukulan.

            Nah, Siapakah di antara kedua orang ini, menurut pendapatmu, adalah banyak memberi dalam pertandingan tinju ini?.” Jawab saya dengan muka sedikit senyum dan terharu: “orang yang dengan motivasi awal untuk memenangkan pertandingan dengan strategi memberi lebih banyak daripada menerima pukulan.

            Dari kisah di atas, saya belajar banyak dibalik dunia pelayanan melayani jemaat. Kisah ini saya tulis dengan gaya bahasa dari penulis Injil Lukas tentang “Orang Samaria yang Murah Hati.” Di mana Yesus orang Nazareth tidak memandang suku, Apakah imam atau Lewi dan atau orang Samaria karena semuanya sama di mata TUHAN, dan bagaimana perbuatan yang baik mencerminkan sikap memanusiakan manusia? Sambil merenenung, salah seorang anak kecil yang mengikuti Yesus menjawab “orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya. Kemudian dengan tegas Yesus berkata kepada kerumunan orang “pergilah, dan perbuatlah demikian! (Luk. 10:37).

            Bagaimana kisah orang Samaria yang baik ini dihubungkan dengan petinju Sangier yang menang dalam pertandingan itu? Pertama, mereka sama-sama melakukan perbuatan memberi. Tetapi substansi kisah keduanya sangat berbeda. Bagi orang Samaria, memberi dengan tulus ikhlas dengan membantu sesamanya yang sedang apes hidupnya, dirampok bahkan dipukulin sampai menderita kesakitan memohon pertolongan orang lain adalah sebuah perbuatan mengasihi TUHAN dan sesama manusia. Ooh bisa diimajinasikan, sungguh mulianya hati orang Samaria itu. Di lain kisah sang pemuda Sangier, memberi pukulan merupakan salah satu strategi ia memenangkan pertandingan sebelum ronde ke-12. Ya, pukulan yang banyak tanpa menerima pukulan sang lawan. Akhirnya, Lawan yang hanya tertanam prinsip ‘asal jadi”, asal terima banyak pukulan itupun langsung K.O.

           Kedua, dikaji dalam pelayanan. Perbuatan orang Samaria adalah perbuatan sesuai dengan hukum Taurat meskipun orang Samaria pada masa itu di anggap sebagai orang kafir dan kelas dua atau termarginalkan. Sebenarnya, ia melayani dengan perbuatan  kemanusiaan manusia melampaui apa yang diajarkan ahli-ahli Taurat dan para imam. Tokh, mereka yang mengajar setiap hari di Bait ALLAH dan berdoa panjang dengan kalimat banyak akhirnya mereka sendiri tidak sanggup menjalankan apa yang mereka sampaikan. Sanggat ironis, bukan? Siapakah mereka di zaman sekarang ini? Hmmmm.., ooh yaah saya lanjut tulis aja. Kok tidak mau terbuka? Begini, saya takut mengaktakan dan menafsirkan perbuatan orang lain bahkan menunduh yang tidak-tidak.  Okey, saya lanjut yaa.., Bagi pemuda Sangier, semangat untuk memenangkan pertandingan menjadi dasar kewajiban dan tanggungjawabnya yakni menandatangani kontrak dan harus menang. Muncul pertanyaan, Mengapa dia banyak memberi pukulan bukan menerima pukulan? Ya, yang jelas strategi ‘perang’nya sangat bermutu untuk mencapai titik kemenangan. Lalu bagaimana dalam dunia pelayanan? maukah saya, saudara/i lebih banyak memberi pelayanan atau lebih banyak menerima hasil pelayanan?

          Coba anda mengulurkan kedua tangan dan membuka jari-jari anda. Apakah yang anda lihat dengan posisi jari-jari tangan anda? Apakah posisi telapak tangan anda terbuka ke atas atau menghadap ke bawah? Jika menghadap ke bawah, berarti anda banyak memberi (apapun pemberian itu). Tetapi jika telapak tangan anda menghadap ke atas maka ubah posisi tangan anda untuk menghadap ke bawah dengan tahu banyak memberi bukan hanya tahu menerima saja.


                Selamat Melayani dengan Banyak Memberi bagi Kemanusiaan


                                                                                                   Manado, 8 April 2012
                                                                                                  Di rajut, Pukul: 18:00
                                                                                     Nency A Heydemans Maramis
           

Tidak ada komentar: