Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Selasa, 10 April 2012

Ibadah Doa dan Penginjilan

   Ini menjadi pengalaman pertama saya memimpin ibadah doa dan penginjilan di Jemaat GMIM Bukit Karmel Batu Kota. Rabu, 29 Februari 2012 saya mendapat kepercayaan dari Ibu Pdt Ria Wuntu-Kuhon (Ketua BPMJ GMIM Bukit Karmel) untuk menggantikan jadwal dari Ibu Pdt Ria sekaligus membawakan ibadah ini.
            Ketika saya mendapat sms dari Ibu Pdt Ria, jujur saya gugup dan makanan yang hinggap di kerongkongan ini sulit terjun bebas di kedalaman lambung yang membutuhkan makanan. Aaah, gelisa hidup saya seharian itu.
Selama beberapa jam saya termenung sambil memohon hikmat dari-Nya. Berbagai ide pun muncul seperti kue cucur yang memiliki banyak renda, bak gelombang ide berguguran di hati dan pikiran ini.
            Berlarinya waktu, tibalah pukul enam sore. Saya berangkat ke gedung gereja membawa alkitab, note book yang saya peroleh dari kegiatan Indonesia Youth Camp 2011, polpen dan tas mini merah.
            Ibadah di buka oleh Bpk Arthur Pinaria selaku ketua komisi pekabaran injil dan doa di jemaat di mana saya berdomisili. Yang hadir pada saat itu, empat perempuan dan tiga laki-laki. saya membawa ibadah doa dan penginjilan ini. Nah, mulailah keringat dingin bercucuran membasahi baju batik merah-hitam. “Aduuh, jangankan pimpin ibadah doa ini, berdoa saja saya sering grogi,” pikir usilku.
            Dalam keadaan itulah saya mulai menguasai diri, emosi dan pikiran saat melihat disekeliling bapa-bapa gereja dan ibu-ibu gereja nan fasih berbicara. Dengan hati-hati dan hati kecil saya mengantar ibadah ini menuju pada khotbah dialog. Maklum, saya paling muda, belum menikah dan belum banyak pengalaman di jemaat.
             Lalu saya mengajak mereka membuka alkitab dengan pembacaan firman Tuhan sesuai dengan minggu berjalan yang di tetapkan sinode GMIM yakni kitab Yesaya 50:4-11.
             Refleksi saya tentang “Doa Hamba Tuhan yang Taat”. Setelah pengatar saya sampaikan maka tibalah saya bertanya kepada mereka “ Siapakah hamba Tuhan itu? Dan Bagaimana sikap yang baik sebagai hamba Tuhan ketika taat dalam situasi sengsara kurang membebaskan?”
              Saat itu, kami duduk di kursi rotan sambil melingkari meja bundar di ruang konsistori. Di samping kiri saya, terdengar suara Bpk Arthur Pinaria berkata “hamba Tuhan diberi janji keselamatan di tengah cobaan dan tantangan hidup. Tantangan hamba Tuhan yaitu mencari Tuhan dalam penyakit berbahaya (seperti kanker) maupun penyakit biasa (seperti flu). Apakah kita lebih mementingkan rasio dan atau lebih dominan iman.”
              Di samping kiri Bpk Arthur, duduk Bpk Tijow yang telah berumur 70-an. Bpk Tijow mengangkat tangan lalu berbicara “biasanya manusia/jemaat tiada ada jalan keluar atau sudah mentok sampai di sini. Yang di pikirkannya hanya berobat kepada dokter tanpa berdoa kepada Tuhan Yesus” Kemudian ia berbicara pengalamannya semasa kecil sampai saat ini. Sharing pengalaman ini memakan waktu setengah jam. “Jikalau menjadi hamba Tuhan maka ia harus mengetahui ke dalaman perasaan hati Tuhan” cetus Bpk Tijow yang rambutnya berwarna putih bercampur hitam. “Sebagai pendoa dan hamba Tuhan maka ucapannya adalah nasehat, ajakan untuk beribadah bagi mereka yang kurang aktif dalam pelayanan, memberi berkat”, tambahan ucapan opa Tijow mengakhiri pembicaraan.
              Mungkin kebanyakan orang sudah terbiasa dengan diskusi khotbah dialog dan berdoa yang kata-katanya panjang. Namun, bagi saya ini menjadi petualang baru di dunia penerapan ilmu teologi dan sosiologi agama di jemaat. “Aaaah, apa gunanya gelar  akademik jika ilmu yang diperoleh tidak di jabarkan di ranah jemaat”, pikir optimisku.
             “Sebagai hamba Tuhan tidak memandang pendidikan dan usia, siapa saja bisa dipanggil oleh Tuhan Yesus menjadi Hamba-Nya.” Ujar Bpk. Simon Pella yang duduk di samping kanan saya. Dengan ucapan tegas dan tatapan tajam sambil ia berucap “Hamba Tuhan harus bisa berpuasa dan siap mengampuni keluarga atau jemaat. Hamba Tuhan tidak boleh bertengkar (babakalae). Mengapa? Karena di tengah perkelahian hamba Tuhan terdapat hamba Iblis yang senang jikalau hamba Tuhan saling berkelahi dan memarahi. Ingat, Tuhan saja ingin berdamai dengan anda.” Ia mengatakan bahwa ada dua hal yang mempengaruhi hidup manusia, yakni kesehatan dan keamanan. Dan oleh karena itu kita harus imani dan amini bahwa Tuhan Yesus akan memagari dan melindungi kita sebagai hambaNya.
             Saya terkesan dengan pernyataan Bpk. Simon bahwa alam roh berbeda dengan alam manusia. saya jadi berpikir “kok ada dua alam yach?” hmmmm
            Upps, sekarang perempuan mengambil alih pembicaraan. Menurut Ibu Usin bahwa di Manado muncul fenomena pengobatan listrik dari Cina dengan harga murah. Misalnya Ceragem dan Matenoia. Fenomena ini menjadi unik karena banyak pendeta, penatua dan syamas datang berobat di tempat itu. Alasan mereka berobat untuk mendapat kesembuhan sakit dan panjang umur. Waduuh, kok panjang umur dan kesehatan diperoleh dari pengobatan Ceragem dan Metanoia ini? cetus Ibu Usin. Lalu ia menambahkan “sebagai hamba Tuhan, maka berdoalah dengan iman dan bukan mencari hal-hal gaib yang menggunakan teknologi canggih.
             Luar biasa sharing pengalaman dan jawaban para bapak dan ibu sehingga tak terasa sudah pukul sembilan malam.
             Di akhir ibadah saya mengajak doa berantai. Di mana pokok-pokok doa saya tulis di kertas kecil dan di bagi-bagikan. Maksud pembagian doa yakni agar supaya semua yang hadir di ibadah ini mendapat bagian untuk berdoa.
Ketika berdoa, saya melihat dalam doa ada sebuah daerah nan luas berumputan hijau saat fajar menyingsing. Kemudian, saya melihat ada sebuah air terjun. Nah, apakah yang akan terjadi dalam diri saya melalui penglihatan doa itu?

                                                     BERSAMBUNG


                                                                                                         Manado, 2 Februari 2012
                                                                                                                                          16:18
                                                                                                Nency A Heydemans Maramis

Tidak ada komentar: