Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Rabu, 30 Mei 2012

Doyan Kuliner



            Restoran dengan pengunjung terbanyak terdapat di daerah Manado. Huui, yang benar aja? Begini, orang Manado selain kuat bekerja, ia juga doyan atau kuat makan. Lihat saja makanan di pelbagai restoran sepanjang jalur Boulevard, dari masakan tradisional Minahasa sampai ala produk Amerika dilahapnya. Lahapan lebih lezat lagi jika disodorkan saus (dabu-dabu atau cabe) ekstra pedis. Hmmm, makin memar bibir orang Manado ini.

            Belum lagi fasilitas di hampir setiap restoran menyiapkan layanan free wifi, sofa empuk, cahaya remang-remang, udara sejuk (ber-AC), seakan memanjakan para pengunjung dengan lifestyle modern.

            Restoran menjadi incaran banyak pengusaha. Mengapa? Karena keuntungan pendapatan sangat tinggi “berluncur” ke kantung pribadi sang pengusaha. Belum lagi, ada jam-jam khusus bonus makanan atau potongan diskon ditawarkan bagi para pengunjung kuliner yang setia.

            Setiap hari, apakah di waktu pagi dan atau malam orang bercerita sambil makan, duduk santai sambil minum, ngumpul bareng teman/saudara, meeting sekaligus arisan dan makan-minum, waah segala kegiatan bisa ditemui di tempat ini. Makin hari, semakin ramai restoran jargon para pengusaha, investor itu.

            Saya jadi penasaran, eemmm Bagaimana rasa makanannya? tergantung leher (gergantang) tiap orang. Sebenarnya, restoran Manado terkenal dengan menu khas rempah-rempahnya yang ma-nyus dengan porsi jumbo. Sesuai porsi, harga-pun ikut jumbo. Fakta dilapangan membuktikan, tidak ada restoran yang tidak ada pengunjung. Alias, setiap hari ramai dikunjungi pengunjung kuliner.

 Lalu, mutunya? Ini dia sobat, makanan instan seringkali membuat tubuh kita rentan terhadap pelbagai penyakin. Kok bisa? Lah pengawet makanan (formalin), bahan kimia ‘menari-nari’ di atas piring unik makanan itu. Ngeri, bukan?

            Bukan hanya itu, doyan kuliner membuat kebanyakan masyarakat Manado terkena penyakit modern atau lebih gaul disebut penyakit orang ‘kaya’. Seperti diabetes, darah tinggi, kolestrol dan kanker.

            Penyakit orang kaya? Emangnya, semua orang Manado kaya? Maksud kaya disini yakni, gaya konsumsinya yang serba waaa (baca: mewah). Meskipun hidup cukup, rumah sederhana, tapi gaya dan konsumsinya seperti orang kaya. Meskipun naik mikrolet (angkot) ke restoran tapi style dan pesanan menunya seperti orang kaya. Biar makan sekali di rumah, maar nyanda mo ba sombong ada BB dan tablet Samsung.

            Ternyata kekenyangan membuat orang menderita. Dalam kitab Ratapan 3:15 tertulis “Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan dan memberi aku minum ipuh.” Kepahitan terjadi karena puteri Sion telah berpaling dari pada-Nya sehingga TUHAN murka. Dan oleh karena itu, kepahitan timbul di atas penderitaan yang mereka alami. Mereka makan, ah rasanya pahit. Mereka minum, ah mengandung racun yang berbahaya bagi tubuh. Itulah penderitaan sebagian orang yang tidak lagi memandang berkat TUHAN bagi tubuhnya, melainkan memandang makanan sebagai perut yang harus di isi, di isi dan di isi sampai sesak bernafas. Hematnya, kebanyakan makan bukan lagi menjadi berkat bagi tubuh, melainkan menjadi sarang penyakit dalam tubuh.

            Doyan kuliner, bisa saja asalkan punya rem (baca: pembatasan) makanan. Bisa, sebulan sekali; bisa juga refreshing bersama keluarga/teman; dan bisa-bisa kantong bocor jika setiap harinya nongol di restoran., hehehehe

            Dan oleh karena itu, sulit merubah kebiasaan “klo ada tada, kong kalo nyanda haga” artinya kalau tersedia makanan maka makan, kemudian kalau tidak ada makanan ikut mata. Tergantung sih. Nah ini dia tergantungnya, di mana? Tergantung di kantung (popoji), atau gratisnya, porsi jumbo, kelezatan dan pedes tentunya.

            Tunggu dulu, apakah anda merasa lapar setelah membaca tulisan ini? apakah tidak berminat ke restoran? Lalu, kira-kira menu apa yang akan anda pesan?

Hhmmm., mimpi kali yeee, ini sudah tengah malam. Restorannya telah tutup!
Kan ada hari esok?
Iya sih, tapi maaf  ya.., saya tidak tertarik.
Kok bisa (?) emangnya lagi epes? Atau lagi sariawan?
Bukan begitu, saya lagi ngumpul duit, siapa tahu dikit-dikit jadi bukit !?!?!?
Hahaha., kamu kala satu point.

 Dengan perlahan-lahan namun serius ia melanjutkan point tersebut “Begini Nency, lihatlah bukit di sana telah saya beli. Kemudian bekerjasama dengan investor untuk diratakan menjadi dataran rendah. Rencananya sih akan di buat restoran terbesar di SULUT,” cetus orang yang terkenan siraman “kopi” ini.

Kayaknya miscommunication. Maksud saya, ngumpul duit dikit-dikit akan menjadi bukit (baca: banyak). Kok  pembicaraannya jadi ngaur. Loh kok bukit di ratakan demi membangun restoran !?!?!?!?




Manado, 29 Mei 2012
02:10
Nency A Heydemans Maramis
           
           

           
           

Tidak ada komentar: