Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Minggu, 27 Mei 2012

Lukas. 4:18-10 Tema: “Kuasa Roh Kudus dalam Perjuangan Hidup”



Syaloom, malam bae bagi saudara/i yang dikasihi dan mengasihi TUHAN Kita Yesus Kristus, Kehadiran gereja-gereja di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh bangsa Barat. Sadar ataupun tidak, langsung ataupun tak langsung corak Barat dalam kehidupan gereja-gereja di Indonesia masih terasa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk ibadah, disain gedung gereja, struktur gereja, kegiatan-kegiatan dan doktrin/ajaran2nya. hal seperti ini wajar saja. Akan tetapi apabila kemudian gereja-gereja di Indonesia melihat tugas dan panggilannya, tugas missio dei (Misi Allah) sebagai tugas dan panggilan gereja-gereja di Barat  maka disitulah terletak masalahnya. Masalahnya adalah, apakah gereja-gereja yang berada di Indonesia harus menjadi sama dengan gereja-gereja yang berada di Barat dalam pengertian hanya menjadi gereje-gereja Barat yang berada di Indonesia? Secara teologis, sebagai umat Allah, dan tubuh Kristus, tugas dan panggilan gereja di mana saja yaitu untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Kerajaan Allah, Allah yang meraja dalam kehidupan manusia, tidak berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Solidaritas Allah terhadap keadilan, kebebasan dan kemanusiaan merupakan perwujudan, tanda, perintis dan perjuangan Kerajaan Allah terhadap manusia. Dalam solidaritas dengan mereka yang sengsara, tertindas, mengalami kekerasan, maka disitulah gereja memperjuangkan sesuatu kehidupan baru, baik jasmani maupun rohani. Inilah yang menjadi pernyataan dan sekaligus pergumulan Pendeta John Titaley dalam kata pengantar buku rampai yang disusun PERSETIA (Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia) yang berjudul “Mengupayakan Misi Gereja yang Kontekstual.”

Dalam rangka inilah maka timbul pertanyaan, sejak kapan ada Yesus? Jawab: Sejak Natal. Tanya: sejak kapan ada Roh Kudus? Jawab: Sejak Pentakosta. Kedua jawaban itu salah. Mungkin tampak sepele, tetapi kesalahan itu bisa menjadi penyebab berbagai kerancuan paham tentang Roh Kudus dan penyalahgunaan nama Roh Kudus. Dibelakang kesalahan itu ada anggapan sebagai berikut. Mula-mula ada Allah, lalu ada Yesus, dan setelah itu ada Roh Kudus. Kitab Kejadian menceritakan tentang Allah, kitab Injil menceritakan Yesus dan Kisah Para Rasul menceritakan Roh Kudus. Dengan anggapan itu kita telah memisahkan Roh Kudus dari Yesus dan Memisahkan Yesus dari Allah. Itulah akar kesalahannya. Yesus bukan baru ada sejak Natal, melainkan sudah ada sebelum Penciptaan alam. Kalimat pertama Injil Yohanes pasal 1 berbunyi: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Begitu juga Roh Kudus bukan baru ada sejak Pentakosta, melainkan sudah ada sebelum penciptaan (Kej. 1:1). Dan oleh karena itu, kita keliru jika menganggap natal dan pentakosta sebagai urutan kronologis. Mungkin salah satu anggapan kita terjebak pada kronologi ini ketika ditulis Lukas dalam Kis. 2:1-13. Di mana Lukas, menghubungkan manifestasi Roh Kudus dengan hari raya panen Yahudi yang bernama Pentakosta, lima puluh hari setelah kebangkitan Yesus Kristus. Roh dalam bahasa Yunani disebut pneuma dan dalam bahasa Ibrani disebut Ruah yang berarti nafas atau angin. Dengan demikian, Roh dari Allah inilah yang menyebabkan manusia dibentuk dari tanah liat, menjadi hidup dari nafas atau Roh Allah. Untuk dipertegas bahwa Roh Kudus adalah Roh Yesus yang masuk dalam kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Surga.

Ada ungkapan yang mengatakan, ooh di gereja ini tidak ada Roh Kudus dan gereja kami memiliki Roh Kudus. Apakah benar demikian? Sebenarnya, Roh Kudus adalah Roh Allah dan Roh Yesus yang dikirim masuk dalam hidup saudara/i dan saya sekalian. Untuk apa Roh Kudus itu? Dalam bahasa Yunani disebut Parakletos artinya pembela, pengantara, pendamping, pendorong, penguat, pelindung dan penolong. Itulah fungsi-fungsi Roh Kudus yang diutus selalu berserta kita. Dan oleh karena itu, kita harus menguji roh, apakah ini benar-benar Roh Kudus atau roh keinginan diri sendiri?

            Saudara/i yang dikasihi dan mengasihi TUHAN Kita Yesus Kristus, Ayat 19 a dan c menuliskan “untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas.” Pernyataan yang dikutib TUHAN Yesus dari kitab Yesaya membuktikan bahwa Yesus semasa hidupnya memperjuangkan pembebasan manusia. Pembebasan yang bagaimana? Ya, pembebasan dari kelas (antara kaya dan miskin), dari suku (Suku Lewi dan Samaria), konstruksi gender (antara laki-laki dan perempuan) dan agama (Yahudi dan non Yahudi). Menurut Gustavo Guterrez dalam teologi pembebasannya di Amerika Latin menuliskan “Yesus Kristus menjadikan manusia sungguh-sungguh bebas. Ini berarti, Yesus Kristus, memungkinkan manusia untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya dan menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Karena Yesus Kristus adalah dasar bagi segala persaudaraan manusiawi. Jika ditarik benang merah, persaudaraan manusiawi dari Yesus inilah yang menjadikan Tou Minahasa Kristen terkenal dengan slogan “torang samua basodara.”

Kemanusiaan manusia dari Yesus Kristus dalam amanat agungnya menunjukkan bahwa TUHAN Yesus adalah sumber inspirasi, pencerahan dan jalan akan keselamatan hidup yang kekal. Ia adalah Allah dan Roh Kudus sendiri. Dan oleh karena itu, TUHAN Yesus mengurapi dengan Roh Kudus kepada saudara/i dan saya untuk menyampaikan Injil kepada orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, serta memberitakan tahun rahmat TUHAN. Kemudian, bagaimana ini semua bisa terlaksana? Kita di anugerahkan talenta-talenta dan atau karunia-karunia Roh yang berbeda dan bagaimana anugerah ini dijalankan sesuai dengan profesi hidup kita, apakah sebagai hakim, polisi, guru, ibu rumah tangga, pelajar, dokter, para pelayan khusus, dosen, dan pelbagai pekerjaan lainnya.

Sepanjang hidup kita sebagai Tou (org) Minahasa Kristen selalu dan terus berjuang. Pendeta Andar Ismail dalam buku terbarunya yang berjudul Selamat Berjuang menuliskan “Apakah yang akan kita perjuangkan. Berjuang untuk sesuap nasi, untuk sambung hidup, untuk mengembangkan diri, untuk lulus ujian nasional, berjuang untuk menjalani terapi, untuk sehat serasi, untuk HAM, dan untuk mengikuti Kristus Sang Rabi sekaligus Sang Abadi, serta untuk tetap utuh sebagai suami-istri dalam bahtera rumah tangga dan juga sebagai warga republik Indonesia. Seperti ikan salmon berjuang melawan arus sungai dengan penuh bahaya dan sukar serta melompati riam, begitulah kita berjuang sekuat tenaga mengatasi segala rintangan dan berbagai rawan-ancaman.”

Ingat, bahwa Yesus pemuda Yahudi dari Nazaret, di tolak masyarakat di tempat Ia berasal. Mengapa Yesus ditolak? Karena, masyarakat mengetahui bahwa Yesus adalah anak Yusuf, anak tukang kayu mana mungkin Yesus itu adalah mesias, melampaui nabi Elia dan Yesaya. Nah, apalagi kita sebagai gereja yang adalah orangnya, pastilah banyak tantangan, pergumulan hidup bahkan penolakan.

            Dan oleh sebab itu, TUHAN Yesus memanggil dan memilih saudara/i dan  saya untuk menjadi Tou Minahasa Kriten yang sejati dalam sikap mengasihi, membela keadilan, kebebasan dan berjuang demi keutuhan rumah tangga. Karena hidup ini bukan hanya perjuangan saudara/i dan saya, melainkan juga perjuangan TUHAN. Refleksikan bahwa Perjuangan dalam sebuah proses masih panjang. Akhir kata, Selamat hari raya Pentakosta di setiap sepak terjang perjuangan hidup. Pakatuan wo pakalowiren kita imbaya.
Amin.



Khotbah Ibadah malam di Gedung Gereja GMIM Bukit Karmel Batukota.
Manado, 27 Mei 2012
Nency A Heydemans Maramis

Tidak ada komentar: