Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Minggu, 27 Mei 2012

TEOLOGI RAHIM DALAM PERSPEKTIF MAZMUR 145:9


TEOLOGI RAHIM DALAM PERSPEKTIF MAZMUR 145:9
Nency A. Heydemans, S.Teol., M.Si *

Pengantar
            Teks kajian kita dalam Mazmur 145:9 terdiri atas dua frasa. Frasa pertama berisi pengakuan pemazmur bahwa TUHAN itu baik kepada semua orang. Frasa kedua mengungkapkan pengakuan pemazmur bahwa TUHAN penuh Rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Sekalipun teks kajian ini adalah sebuah himne yang mengekspresikan pengakuan individu pemazmur, tetapi sebagaimana mazmur-mazmur lain, pengakuan individu pemazmur dapat dipandang sebagai pengakuan umat secara menyeluruh. Oleh karena itu dalam rangka ibadah Lansia Manado Barat Daya sekaligus materi PA, teks ini kita kaji bersama untuk menemukan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk membangun sikap hidup bersama merespon persoalan kerusakan lingkungan alam yang melibatkan manusia dan isi dunia.

Marrianne Katoppo menjadi pelopor dari istilah teologi rahim. Ia lahir di Tomohon, 9 Juni 1943 dan meninggal di Bogor, 12 Oktober 2007. Novelnya yang berjudul Raumanan dan buku yang berjudul Compassionate and Free berisi refleksi teologis akan kepekaan ratapan perempuan dan harapannya untuk menjadi pribadi yang merdeka, bebas dan berpikir ktiris serta menjalankan kasih Allah kepada sesama.


TUHAN itu baik kepada semua orang
            Dalam frasa pertama ini, yang mendapat perhatian pemazmur adalah sikap TUHAN terhadap manusia. Pemazmur mengakui bahwa di hadapan TUHAN, semua manusia sama; tidak ada kelompok ‘anak emas’. Sifat baik yang dikenakan pemazmur kepada Tuhan dalam menggambarkan relasi antara TUHAN dengan manusia. Relasi yang dibangun oleh TUHAN dengan manusia tidak didasarkan atas klasifikasi tertentu, apalagi diskriminasi berdasarkan bangsa, suku, agama dan gender. Konsep ini menunjukkan pandangan pemazmur bahwa TUHAN tidak mengenal batas-batas antar manusia yang dibuat oleh manusia sendiri.

            Sifat baik membuat tangan TUHAN terbuka untuk merangkul semua manusia. Tidak ada keterpisahan dalam rangkulan tangan TUHAN. Sebaliknya, rangkulan-Nya membuat manusia terhubung satu dengan yang lain seperti persoalan hidup, harapan hidup dan karya-karya hidupnya. Oleh sebab itu, tangan TUHAN tetap terbuka menerima dan merangkul manusia. inilah hakikat kebaikan TUHAN.

            Meskipun demikian, rangkulan TUHAN yang mempertemukan manusia tidak menyebabkan manusia kehilangan pelbagai perbedaan yang mereka miliki. Tangan TUHAN merangkul semua bangsa. Ia juga merangkul laki-laki dan perempuan dari anak, remaja, pemuda dan orang tua. Dalam setting rangkulan TUHAN inilah, perbedaan-perbedaan yang ada tidak perlu dipertentangkan dan dianggap sebagai ancaman sehingga dijadikan alasan untuk pemisahan dan diskriminasi dalam hidup manusia. pelbagai perbedaan menolong manusia untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang menghargai perbedaan dan talenta atau karunia-karunia yang berbeda. Pelpagai perbedaan ini juga membuat manusia menyadari bahwa mereka saling membutuhkan. Kesadaran ini menjadi pegangan untuk membangun hidup bersama, dan bertindak bersama sebagai umat TUHAN.

Dalam kerangka iman, setiap orang perlu mengambil bagian dalam realitas bahwa TUHAN itu baik kepada semua orang. Di sinilah aspek kemanusiaan manusia yang dijunjung tinggi seperti yang di firman-kan pemazmur kepada umat/gereja.


TUHAN penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya

            Pada frasa kedua ini, pemazmur menggambarkan sifat TUHAN dalam relasi dengan segala ciptaan-Nya. Relasi TUHAN sebagai Pencipta dan ciptaan-Nya mendapat perhatian dari pemazmur. Yang menarik dari frasa ini adalah ketika menggambarkan relasi TUHAN, Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya, pemazmur menggunakan kata benda Ibrani rechem yang artinya rahim (womb). Kemudian, rahim menurut kata sifat berasal dari akar kata Ibrani rakhum artinya pengasih dan penyayang; rakhama yakni penuh rahmat; raham artinya kasih sayang; dan hanen yang berarti kemurahan hati. Dengan demikian, rechem dipahami pemazmur sebagai hubungan TUHAN dengan ciptaan-Nya sama seperti hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya. Dengan demikian, jelas bahwa pemazmur hendak menekankan sifat dan hakikat Tuhan sebagai asal dan sumber kehidupan. Hati TUHAN Allah berasal dan bersumber dalam kehidupan bak hati seorang ibu: menciptakan isi bumi (baca: melahirkan), menjaga, memelihara, merawat, menutrisi dan memberi kehidupan kepada anak-anaknya.

            Menariknya, ketika menterjemahkan kata rechem, LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) menggunakan kata rahmat, di mana memiliki kedekatan dengan kata rechem. LAI menggunakan kata rahmat untuk memudahkan para pembaca memahami makna kata itu dalam frasa ini.

            Nampaknya pemazmur memahami secara baik kharakter seorang ibu. Seorang ibu memiliki hati yang menghidupkan. Seorang ibu tidak pernah menginginkan kehancuran hidup anak-anaknya. Seorang ibu rela melakukan apa saja demi membahagiakan anak-anaknya, sekalipun untuk itu ia harus menderita. Oleh karena itu, pemazmur menggambarkan relasi TUHAN dengan segala ciptaanNya dalam perspektif seorang ibu; perspektif ibu yang memiliki keterkaitan dengan sifat menopang kehidupan. Sifat menjaga kehidupan dari anak-anaknya namak dalam kenyataan kasih yang tulus seorang ibu. Berdasarkan perspektif ini, eksploitasi, penghancuran, penindasan dan pembinasaan ciptaan TUHAN merupakan hal yang bertentangan dengan maksud penciptaan itu. Segala yang diciptakan TUHAN adalah baik adanya, saling berelasi, dan teratur untuk saling menopang kehidupan.

            Pengakuan di atas yang berangkat dari pengalaman pemazmur menjadi inspirasi bagi pembaca untuk menjaga, memelihara dan memberi kehidupan kepada segala ciptaan TUHAN dengan melakukan perbaikan, pemulihan dan kepedulian dari kerusakan-kerusakan alam yang terjadi di sekitar kita. Pengakuan ini harus sejalan dengan perbuatan untuk menjaga keberlangsungan bumi pertiwi demi kehidupan masa kini dan masa depan.

            Kita ingat bahwa, manusia diciptakan TUHAN pada hari keenam. Mengapa demikian? Karena jika manusia diciptakan pada hari pertama maka apa yang akan dia makan, minum, tidak ada penerang, tidak ada udara, tidak ada tanah, tidak ada tumbuh-tumbuhan dan tidak ada binatang. Maka musnah-lah manusia. Oleh karena itu, manusia diciptakan sesudah makhluk hidup hadir di muka bumi ini. Artinya, manusia hidup di bumi bergantung pada makhluk hidup. Tanpa mereka, maka musnahlah manusia. Jika rantai makanan berupa lingkaran spiral terputus, maka rusaklah alam semesta ini. Dengan kerusakan alam yang sementara kita lakukan, kita rasakan, menjadikan kita berkontribusi untuk merusaki rahim bumi. Rahim di mana kita akan kembali ke tanah liat. 

Pengakuan pemazmur juga menggambarkan bahwa fungsi reproduksi rahim perempuan diikuti fungsi biologisnya disebut kodrat. Perbedaan perempuan dan laki-laki adalah perbedaan kodrati. Kodrat dari bahasa Arab “qudra” berarti yang terberi. Kodrat adalah pemberian Tuhan, bukan buatan atau hasil dari suatu pembiasaan atau pelatihan bukan rekayasa prilaku, bukan konstruksi sosial atau citra baku buatan manusia, ya… bukan budaya manusia.

Perempuan mengandung dengan susah payah dan rasa sakit saat melahirkan bukan lagi menjadi hukuman atau akibat dosa tetapi suatu berkat yang dijadikan-Nya. Berkat bagi seluruh dunia, bagi semua orang, semua kaum, semua bangsa. Berkat rahim di satu sisi, kehidupan dunia terus berlanjut. Manusia yang lahir dan hidup, terus melahirkan kehidupan, bukan hanya bagi manusia tetapi bagi semua ciptaan (bnd. : Tuhan Yesus lahir dari seorang rahim, bunda Maria). Dapat kita bandingkan dengan filosofi khas Minahasa yang memiliki makna mendalam, Dr Sam Ratulangi “Si Tou Timou Tumou Tou” (Manusia Hidup untuk Memanusiakan Manusia).

Berkat rahim di sisi lain, kehidupan akan tuntutan kebutuhan dunia terus bertambah. Dari bertambah banyak dan penuhilah bumi menunjukkan pertumbuhan penduduk makin padat. Tuntutan sandang, papan dan pangan meningkat. Dan oleh karena itu, gereja yang bukan hanya sebagai lembaga keagamaan tetapi juga orangnya (baca: termasuk kelompok fungsional lansia) harus terus memancarkan garam dan terang dunia. Kemudian, memancarkan kesejukan di tengah keluarga melalui sikap bersahabat dengan alam antara lain salah satu sikap dengan menanam dan memelihara pohon atau bunga hidup.

Dunia sedang mengalami perubahan iklim yang ekstrim. Tak bisa dipungkiri lagi, pemanasan global sedang dan akan kita rasakan kelak. Apakah yang akan kita wariskan kepada anak, cucu dan cece kita ke-akan-an? Apakah kemacetan atau polusi udara atau kepadatan penduduk, penghijauan lingkungan dengan penanaman pohon/bunga dan atau hidup hemat energi?

Kerusakan lingkungan hidup menjadikan gereja membawa diri sebagai sahabat dengan alam semesta melalui keadilan, kesederhanaan, kerendahan hati, hormat, hidup harmoni, menghargai hak-hak hidup segala ciptaan (termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan). Cara pandang pemazmur 145:9 akan membantu gereja dalam upaya memberi pemahaman, memberi sikap untuk berekonsiliasi dan berpartisipasi mencintai alam berdasarkan kasih dari TUHAN Allah, kasih dari Yesus Kristus kepada dunia ini. Sebagai warga gereja yang percaya bahwa Roh Kudus bekerja mentransformasikan gereja dan alam semesta, maka sebagai warga gereja inilah kita memberi makna, menikmati dan merasakan rahmat-Nya bak seorang ibu kepada anak-anaknya. Akhir kata, Manusia datang (baca: lahir) dari rahim ibu dan kembali (baca: mati) ke rahim bumi.






*        Materi Teologi Rahim dalam Perspektif Mazmur 145:9 Disampaikan dalam Ceramah Kelompok Fungsional Lansia Wilayah Manado Barat Daya. Batukota, 26 Mei 2012.

Tidak ada komentar: