Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Selasa, 02 April 2013

Yudas Iskariot: Saya, Jangan Dipersalahkan





            Saya Yudas, salah satu murid Yesus, anak Simon orang Kariot. Ibu saya memberikan nama Yudas, yang berasal dari bahasa Ibrani “yuda”, yang artinya terpujilah Tuhan. Dengan harapan, suatu saat saya bisa dan selalu memuji TUHAN dalam segala waktu. Beginilah waktu, seiring proses perjalanan hidup, maka saya bertemu dengan nama-Nya, Yesus Kristus. Saya mengambil keputusan untuk mengikuti jejak-Nya. Maka tibalah Ia memilih. Dari kesebelas murid Yesus, saya dipanggil, dipilih menjadi murid-Nya yang keduabelas. Meskipun saya menyadari bahwa murid-murid Yesus juga tak terbatas dari jumlahnya, apakah para perempuan dan atau laki-laki. Memang benar  nama saya disebut paling terakhir, akan tetapi orang terakhir inilah yang sangat mempengaruhi kehidupan Yesus. Mengingat, Injil di atas Segala Injil menyebut saya, sang penghianat (Mat.10:4).

Selama perjalanan penginjilan bersama Rabi, saya mendapat amanat untuk memegang jabatan sebagai bendahara (Yoh. 13:29). Sebenarnya, saya tidak mencalonkan diri menjadi orang kepercayaan-Nya. Bakat menghitung apalagi urusan uang, saya jagonya. Bisa dikata, saya murid terpandai dari yang lainnya. Kepandaian mengatur uang, melihat harga dagang pasar, membangun jejaring sampai dengan urusan belanja tiap hari diberikan tanggungjawab sepenuhnya. Awalnya, saya tidak mengerti panggilan dan amanat besar ini dalam diri saya. Namun saya mencoba menjalani panggilan rasul ini. Sehingga banyak orang menyebut diri saya adalah tangan kanan sang Rabi, Yesus. 

Saya teringat proses kehidupan bersama Yesus dan teman-teman seperjuangan. Proses di mana saya merasa bahagia namun ada banyak kesedihan yang dialami. Bahagia karena memiliki sang Guru yang memperjuangkan keadilan, perdamaian, kesetaraan, transformasi dan lebih jauh lagi, yakni  nilai-nilai kemanusiaan dilakukan, diteladankan-Nya. Saya kagum dengan ide-ide inspirasi yang membebaskan dan memberdayakan bagi siapa saja yang dijumpai-Nya. Di bawah hukum kasih-Nya, semua orang, semua Suku, Agama, Ras dan Gender (SARAG) sama dihadapan-Nya; yang lebih dahulu mengasihi tanpa batas, semacam tak terhingga cinta kasih-Nya. Makin saya tercengang lagi, mujisat ilahi-Nya nyata (baik) bagi manusia maupun alam semesta. Semua seakan tunduk, mengalami transformasi, pulih dari status sosial maupun pulih dari sakit penyakit, bahkan dibangkitkan dari antara orang mati.

 Dipelbagai tempat, saya dengan setia mengikuti Yesus. Banyak orang menyebut Yesus: Tabib, Guru, Gembala, Mesias, Anak Manusia, dll. Gelar-gelar ini diberikan ketika Ia berpikir, mengucap dan melakukan sesuatu yang membuat pengikut-pengikut-Nya bertanya-tanya: siapakah Dia (?).

Saya mengetahui latar belakang Yesus. Ia dilahirkan dari rahim Maria. Kemudian, Ia anak Yusuf, si tukang kayu. Keluarga-Nya sederhana. Akan tetapi, dengan sifat kesederhanaan dibawa kuasa Roh Kudus, Ia menjadi makin terkenal, makin digemari, disayangi oleh siapa saja. Karena Ia adalah Anak Manusia. Hikmat, wibawa, kuasa Roh Kudus selalu bersama-Nya. Berita pembebasan dan kabar baik di sampaikan-Nya entah itu di pesisir pantai, di Bukit maupun di Bait Allah. Tentu perjuangan dan berita kabar baik ini menjadikan diri-Nya sang pemberi Inspirator, sang Transformator dan motivator yang selalu menghidupkan siapa saja yang percaya kepada-Nya. Akan tetapi, saya berpendapat bahwa eksistensi saya sebagai tangan kanan sang Rabi, juga memberi nilai tambah. Orang-orang Kariot diseputaran Yudea banyak mengenal dan mengikuti Yesus. Begitu juga, saya membangun jejaring dengan orang-orang non Yahudi maupun para imam Yahudi. Wawasan dan jejaring yang luas ikut andil dalam memberitakan kabar baik dari Sang Guru.

Ada suatu peristiwa yang membuat saya merasa kurang hati. Begini kisah ceritanya. Enam hari sebelum Paskah, Yesus datang  ke Betania di rumah Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati (Yoh.12:1-8). Di rumah itu, ada suatu kejadian yang sangat aneh, tapi nyata. Maria Magdalena meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang harganya sangat mahal. Jelas, ketika saya melihat perbuatan tulus Maria ini, spontan saya langsung menegur perbuatannya yang boros itu. Yesus membela Maria, karena perempuan itu yang menandakan peringatan hari penguburan-Nya. Saya menegur Maria di depan banyak orang, agar supaya ia tidak boros. Usul saya, minyak itu bisa di jual dengan uang yang harganya sangat mahal, dan uang itu bisa di simpan di kas penginjilan. Ya, jelas untuk keperluan setiap harinya. Sekali lagi, Injil di atas segala Injil menuliskan bahwa saya ini seorang pencuri yang sering mengambil uang kas penginjilan. Jujur saya mau katakan di sini bahwa: sifat manusiawi melekat dalam tubuh yang fana ini. Memang benar, jika keperluan setiap hari tidak cukup maka saya sering mengambil uang kas itu. Akan tetapi, saya juga tahu diri untuk mengembalikan uang tersebut. Ini dikarenakan saya Takut TUHAN dan uang kas itu telah di-buku-kan.  Singkat kata, berapa besar jumlah pengambilan uang itu; begitu pula pengembalian ke kas penginjilan.

Kisah perjalananku mencapai puncaknya. Saya mulai dibenci teman seperjuangan. Banyak yang iri dengan posisi yang saya miliki. Saya mulai dikucilkan diantara mereka. Akhirnya, saya mulai menjaga jarak. Hubungan yang renggang ini mengakibatkan saya mulai bergaul dengan para imam Yahudi.

Para agamawan sangat menerima kehadiranku. Saya mulai mendengar dan melihat perbuatan yang sangat tidak baik dan picik itu. Bak udang di balik batu. Eksistensi saya dimanfaatkan. Mereka sangat membenci Yesus yang membokar abis dagangan di Bait Allah; Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari sabat di Bait Allah bahkan menyebut dirinya, Mesias Anak Allah. Kami membuat diskusi untuk menangkap Yesus. Gonjang ganjing terdengar di mana-mana. Ruangan menjadi ribut. Uang menjadi alat penetral suasana untuk menangkap Yesus. itulah tugas baru yang disampaikan para agamawan bagiku. Pikir singkatku, hanya menangkap Yesus dan pasti suatu saat Ia akan dilepaskan dengan pelbagai sangsi yang akan diterimanya.

Saya mulai mencari strategi untuk menangkapnya, sesudah Perjamuan Malam itu. Hari ‘baik’ itu tiba. Di taman Getsemani, Yesus bersama murid-murid-Nya berkumpul.  Saya mengambil bagian bersama imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua untuk menangkap Yesus. Sesuai kebiasaan waktu itu, di kalangan orang Yahudi, seorang rabi dihormati dengan cara memeluk lehernya dan mencium dahinya. Memang saya menghormati-Nya, dan itulah yang dilakukan. Tiba-tiba suasana menjadi tegang, ada penyerangan dilakukan Petrus. Telinga imam besar terputus. Namun dengan kasih Yesus, Ia mengembalikan dan menyembuhkan telinganya. Terlihat Yesus menyerahkan diri secara sadar dan sukarela ke dalam tangan kami.

Melihat kasih Yesus yang besar kepada kami, maka menyesallah saya (Mat.27:3). Penyesalan mendalam ketika melihat Yesus, sang Rabi diadili di Mahkamah Agama dengan pelbagai saksi dusta (Mat.26:57-68). Ia di olok-olokan, diludahi, dipukuli, dirobeki baju-Nya sampai dipakaikan mahkota duri. Bukan hanya itu saja, Yesus di jatuhi hukuman mati di depan wali negeri. Pemerintah mencampuri urusan agama karena desakan para agamawan. Konsensus bersama dilanggar. Bukan hukuman mati yang harus ditimpahkan kepada-Nya. Sekali lagi, bukan hukuman mati. Hasil konsensus hanyalah sangsi ringan yang harus menimpah Yesus. Melihat tidak ada yang beres, tidak ada yang benar di hadapan para agamawan, maka saya sangatlah menyesal. Lanjut, penyesalan sangsi sosial diterima. Banyak yang mencaci maki, mengucilkan bahkan mengutuk diri saya. Semua berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada kedamaian di hati ini; galau pikiran ini dan tidak leluasa untuk beradaptasi. Depresi, terasa berat tertekan. Inikah kutukan bagi diriku?

Menjalani penyesalan setiap hari sangat menyiksa. Uang tiga puluh perak, saya kembalikan kepada mereka. Saya tidak mempergunakan uang itu. Kemudian uang itu dipakai para imam untuk membeli tanah tukang periuk untuk dijadikan tempat penguburan orang asing sehingga tanah itu disebut tanah darah. Uang darah mengantarkan saya pada akhir hidup yang sangat tragis. Ya, saya menggantungkan diri di atas pohon (Mat.27:5). Sebelum mengakhiri hidup ini, saya memohon kiranya Yesus, sang Rabi yang mengasihi semua orang (termasuk saya) dan mengampuni dosa-dosaku ini, memaafkan serta menyelamatkan hidup saya di kehidupan sekarang maupun selanjutnya. Diingatkan bagi para pembaca bahwa saya, jangan dipersalahkan! Dengan demikian, genaplah firman TUHAN yang disampaikan para nabi dan dikemudian hari dinarasikan para penginjil untuk misi Allah di muka bumi ini. Misi Yesus Kristus akan pembebasan, kesetaraan, keadilan, perdamaian, transformasi dan penyelamatan manusia (termasuk juga hewan dan tumbuh-tumbuhan).


Manado, 2 April 2013
Nency A Heydemans Moningka
           
           

Tidak ada komentar: