Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Mari Berdoa untuk Kemanusiaan

Kamis, 12 Juli 2012

Bagian II : Saya Bekerja di Ladang Boas



            Musim panen hasil pertanian tidak saya sia-siakan. Saya memohon izin mama Naomi untuk pergi memungut sisa tuaian jelai yang tercecer. Ini menjadi cara terhormat orang miskin (seperti saya) menyambung hidup. Menurut Taurat, yang termasuk kategori miskin adalah pendatang, anak yatim dan janda. Saya termasuk dalam kategori ini dan berhak untuk menikmati hasil ladang. Pemilik ladang tak boleh serakah saat panen. Cukup memetik hasil panen sekali, tidak memanennya lagi hingga bersih. Bulir-bulir jelai yang tertinggal atau tercecer  di ladang adalah hak orang miskin, dan kami tidak perlu meminta izin terlebih dahulu untuk memungutnya. Mengapa? Karena sisa bulir-bulir jelai adalah hak kami orang yang termarginalkan oleh budaya.

            Di musim raya ini, saya mempunyai semangat bekerja dalam rangka menyambung hidupku dan mama Naomi. Ya, saya bekerja di ladang Boas, saudara papa mertua dari kaum Elimelekh yang kaya raya itu. Ketika menapaki jalan yang berbatu-batu ini, saya memandang ladang yang luas, siap panen dan banyak pekerja sibuk memanen. Awalnya, saya tidak mengetahui kalau pemilik ladang ini adalah Boas. Yang hanya ada dalam pikiranku adalah bekerja, memohon belas kasih dari si pemilik lahan; ya memohon hak sang janda muda yang miskin ini.

            Saya memperhatikan ada pembagian kerja hasil panen. Ada penuai dan pengawas penuai semacam mandor. Ladang ini sangat luas. Namun kehadiran saya sebagai seorang perempuan asing di antara pekerja-pekerja perempuan pribumi sangat menarik perhatian sang pemilik ladang, Boas.

            Boas cukup lama memandang gerak tubuh dan kecantikan saya. Tak puas dengan pendangan matanya itu, tiba-tiba ia bertanya kepada sang mandor mengenai asal usul saya. Terdengar jelas sang mandor berkata bahwa perempuan miskin yang sedang memungut jelai dari pagi sampai sore ini adalah menantu Naomi yang bernama Rut. Mendengar pembicaraan mereka tentang diri saya, maka saya langsung bergeser sedikit lebih jauh sambil tetap terus bekerja.

            Tak terasa pekerjaan dihari pertama membawakan banyak hasil. Semangat yang berkobar dalam relung hati ini menunjukkan bahwa saya seorang janda muda perempuan asing mampu bekerja demi kelangsungan hidup ini; mampu bersaing mengumpulkan lebih banyak jelai dibandingkan dengan pekerja perempuan pribumi lainnya.

Sore ini, saya bisa membawa pulang seefa jelai banyaknya, cukup untuk makan sedikitnya setengah bulan ke depan bersama mama Naomi. Melihat hasil kerja perdana saya diberkati TUHAN maka mama Naomi memberikan nasehat bahwa saya harus bekerja di ladang Boas sepanjang panen raya ini. Dengan demikian, saya melakukan nasehat tersebut selama dua bulan ke depan, sampai hasil panen usai.

            Namun seiring waktu berlalu, makanan yang terkumpul cepat atau lambat akan habis. Dengan berakhirnya musim panen maka pekerjaan memungut jelai ikut berakhir juga. Hal ini menjadi masalah sekaligus ancaman dalam pekerjaan saya ke depan. Terasa berat hidup tanpa suami. Tak habis pergumulan dalam hidupku. Pergumulan jangka panjang mengenai kebutuhan hidup setiap hari bersama mama Naomi menghantui pikiranku. Dengan kata lain, mencari nafkah menjadi ‘kuk’ yang saya pikul di tengah keluarga ini.

 Di manakah saya harus bekerja jika hasil panen raya telah usai? Kesejahteraan saya adalah juga kesejahteraan mama Naomi. Untuk itu, bagaimana kisah mencari nafkah ke depan, akan saya utarakan di bagian berikutnya.



Manado, 10 Juli 2012
24:00
Nency A Heydemans Maramis

Tidak ada komentar: